Postingan

Menampilkan postingan dari 2021

Asing

Tidak ada lagi ceria, Tidak ada lagi cerita, Semua telah berbeda, Katanya. Dibalik jendela, Hujan tidak mereda, Sama, Seperti deras yang ia rasa.  Dimana? Bahagia seperti menguap tidak bersisa. Dimana? Semua terasa asing baginya juga. 

Abadi - Sementara

Siapa yang berkata bahwa kehidupan adalah tentang selamanya? tidakkah kita kehabisan waktu pada akhirnya? Siapa yang berkata tentang mereka akan selalu ada? tidakkah kita akan pergi juga pada waktunya? Bermimpi tentang abadi, apakah bisa? Berharap tentang hal diluar akal, apakah nyata? Berharap hidup nantinya akan baik-baik saja, apakah akan tiba? Bagaimana jika semua hanyalah sementara? waktu, manusia dan dunia. Apa yang tersisa?  Apa yang terbawa? Bagaimana jika semua hanyalah sementara? kemana kita akan pergi selanjutnya?

Sudah Sepenuh Apa?

Beberapa manusia terkadang, begitu hebat dalam beradu pandang. Tanpa perlu mendengar, mereka cepat merasa ya merekalah yang paling benar. Tanpa perlu memahami, mereka cepat berteriak ya merekalah yang paling mengetahui. Sudah sepenuh apa diri ini? sehingga tidak ada lagi ruang untuk mengerti? Sudah seberapa benar diri ini? sehingga tidak ada lagi rasa salah dalam bercermin diri?

Fase

Ternyata seperti ini ya rasanya, hidup menuju fase usia yang lebih dewasa. Dimana, sudah mulai terdengar, suara-suara yang memberi patokan terhadap kehidupan yang kita jalankan. sudah mulai terasa, lelahnya berjalan mengemban segala tuntutan yang seakan harus cepat untuk direalisasikan.  Dan.. dimana, kehilangan diri sendiri dipertengahan jalan, sudah menjadi kebiasaan.  Ternyata seperti ini, bergabung menjadi salah satu dari ribuan atau jutaan, yang kehidupannya diisi untuk membuktikan, berniat membahagiakan walau selama ini tidak dipedulikan, menyuguhkan kesuksesan agar lebih diperhatikan. Ternyata seperti ini, menjadi manusia yang menjalankan ritual pagi dengan menyemangati diri sendiri, menjadi sandaran yang paling tegar untuk sebuah bahu, disaat diri sendiri sebenarnya sedang menjalankan kehidupan yang ia juga tidak tahu. Tanpa kita sadari, menuju fase usia yang lebih dewasa ini, terkadang pandangan tentang kebahagiaan kita lihat dari kacamata pencapaian, tidak jarang, ki...

Api Jiwa

Terkadang, dalam sebuah perjalanan panjang, sangat tidak disangka, ketika kehidupan membawa kita masuk kedalam suatu liku cerita, bernama.. kehilangan. Jalannya sungguh berliku, berputar berkali-kali, diimpit perasaan hampa, mencari jalan keluar dari seluruh lara. Dan aku melihat, banyak sekali yang tersesat, terombang ambing dalam keputus asaan, berjalan dengan raga yang harapannya telah terbang.  Dan aku mendengar, sebuah pertanyaan samar-samar, "untuk apa aku melalui ini semua?" "tidak bisa, tidak bisa lagi aku bertahan, semua kenyataan begitu pahit untuk ditelan." hai, jalan ini memang berliku, namun menyerah tidaklah membantu. Tidak ada yang tahu, kemana kehidupan nanti akan mengarahkanmu, walau kini harapan tampak begitu semu, namun tetap dekaplah hal itu dalam dadamu. Nyalakan kembali, api jiwa yang telah lama padam, Bangkitlah, tegakkan keyakinanmu, teguhkan hatimu, capailah tujuanmu, itu. 

Sudahkah kita?

Tanpa disadari, beberapa dari kita ternyata menghabiskan waktu.. dengan mencemaskan beberapa hal yang tidak tentu. Seakan kita telah menjadi manusia yang bisa memprediksi masa depan.. disaat semua masih jauh dari pandangan.  Lupa, bahwa semua.. masihlah menjadi rahasiaNya. Tanpa disadari, beberapa dari kita ternyata juga sering, menghabiskan malam bersama pikiran-pikiran yang menakutkan. Segala macam pikiran seperti kecemasan,kepahitan dan rasa ketidak-adilan, seakan menjadi teman penghantar sekaligus pengisi kesepian.  Lelah dalam menjalani kehidupan, namun tidak ingin menyerah karena takut akan kegagalan, menjadi motif pengisi perjalanan, dan penyelimut tekad dalam bertahan menuju masa depan.  Mungkin, beberapa dari kita kemudian berteman dengan segala pertanyaan yang menanti akan jawaban, "setelah ini apa?"  "setelah ini bagaimana?" Seakan waktu merupakan sebuah janji yang akan selalu kita miliki.  Tanpa disadari, kini ada pertanyaan yang terlewat untuk kita ...

Beberapa - Semua

"kau tahu tentang konsep beberapa - semua?" "maksudnya?" "ya seperti.. Beberapa manusia sungguh bahagia, sehingga ia takut untuk tiada, beberapa manusia sungguh tersiksa, sehingga ia tidak mau ada di dunia. Beberapa manusia sedang berbunga, sehingga bahagia menjadi satu-satunya udara yang ada, beberapa manusia sedang berlarut dalam duka, sehingga sesak menjadi satu-satunya yang memenuhi dada. Beberapa manusia sedang hidup, beberapa manusia sedang meredup. Beberapa manusia sedang berenang, beberapa manusia sedang tenggelam. " "lalu apa yang 'semua'? " "semua manusia sementara." "termasuk bahagia dan lara yang sedang dirasa." " .."

Landak Kecil

Ia seperti seekor landak kecil, tersesat dalam rimba kehidupannya yang mungil. Berjalan, berlari, berhenti dan bersembunyi, entah kemana ia harus pergi. Setiap langkah yang ia lalui, tidak pernah ia berfikir untuk kembali. Walaupun jurang sudah lebar membentang di hadapan, ia tetap menyusuri secara perlahan, bermodal duri sebagai perlindungan sekaligus harapan, ia memilih terjun kedalam ketidakpastian.  Entah apa yang akan ia temukan, dalam jurang yang penuh kegelapan, dalam kehidupan ketika semua orang berteriak "Jangan!". Seekor landak kecil, yang tetap berjalan ditengah ketidak tahuan dan kehilangan, walau beberapa kali ia meringis kesakitan, tak jarangpun sekarat atas setiap pilihan, dalam benaknya tetap selalu tersisa harapan. Harapan tentang, seberapapun gelap kehidupan  yang ia rasakan sekarang, ia percaya tetap bisa melewati segala rintangan. Tidak ada ekspektasi, yang ia simpan dalam hati. Karena yang ia tahu, ia hanya ingin melewati jurang ini. Entah apapun yang ak...

Lautan Penyesalan

Waktunya habis, ia tenggelam dalam lara tidak berkesudahan. bermimpi tentang keabadian yang menangkan, selamanya bermimpi tentang sesuatu yang ia idamkan. Tidak ada yang sia-sia, hidup yang penuh dengan berpura-pura, ia nikmati setiap tawa untuk menutup luka. Hatinya entah sudah dimana, entah sudah pergi, entah mungkin tidak akan kembali. Yang tersisa hanya raganya, mengenang seluruh waktu yang dulu ia punya. Ingin rasanya ia kembali, berlari sekencang mungkin menuju suatu hari, dimana seharusnya ia sedikit bernyali. Namun, waktunya telah terhenti. tidak ada lagi yang berdiri disini. Seluruh kenangan telah terangkat menjadi awan, dan berubah menjadi rintikan hujan yang menenggelamkan. Waktunya telah habis, ia telah tenggelam,  dalam lara tidak berkesudahan, yang kita sebut sebagai lautan penyesalan. 

Bagaimana

Bagaimana mungkin,  kamu bisa merasa bahagia, disaat semua seperti api yang sedang membara? Bagaimana mungkin, kamu bisa merasa tenang, disaat semua yang kamu dengar adalah petir yang menggelegar? Bagaimana mungkin, kamu bisa merasa aman, disaat semua yang kamu lakukan penuh dengan kata ancaman? Bagaimana mungkin, kamu bisa mencintai, disaat semua terlihat sangat melukai? Bagaimana mungkin, kamu bisa hidup, disaat semua membuatmu meredup? Lalu apa? apa yang akan menunggu di depan sana? Bagaimana? cara untuk melalui ini semua?

Tempat Tanpa Nama

Ia hanya ingin berada di satu tempat. tempat yang tidak pernah ada. tempat tanpa nama. Sebuah tempat, yang menjadi lemah bukanlah masalah. sebuah tempat, dimana marah menjadi hal yang tidak pernah. Apakah terlalu tinggi,  hanya sekedar untuk bermimpi, tentang hidup yang sangat ramah untuk dijalani? Apakah terlalu jauh, untuk mencari, tentang tempat untuk menjadi diri sendiri? Hutan mana yang harus dilalui, hujan seperti apa yang harus diterjang sendiri, hingga nanti, akhirnya mampu untuk berhenti, di tempat yang tidak pernah ada, di sebuah tempat tidak bernama? Dimana? sebuah tempat untuk bisa beristirahat, di dalam kata selamanya?

Dialog Hidup

"Kamu tahu? di hidup ini aku banyak sekali melihat manusia.." "manusia apa?" "manusia yang hidup dengan penuh ketakutan, entah di matanya, atau di benaknya." "ooh ya? takut? akan hal?" "tebak saja." "hmm.. perpisahan? kesedihan? kesengsaraan?" "bukan." "jadi?" "ketakutan untuk menjadi diri sendiri, ketakutan untuk memilih jalan yang dia yakini." "..." "lalu kau tahu? akhirnya aku banyak melihat manusia yang mati. padahal dirinya masih ada di bumi,  masih berjalan dan bernafas setiap hari." "kenapa?" "yaa, karena mereka akhirnya menjalani, hidup yang tidak mereka sukai." "dan aku pernah mati, bagaimana dengan kamu?" "aku?"  " jangan sampai mati, kamu harus hidup." "hiduplah, untuk dirimu sendiri terlebih dahulu,  untuk berani mengambil langkah yang kamu yakini, untuk berani bertanggung jawab atas seluruh hal yang kamu lalui....

Tidak Perlu

Tidak perlu terburu, untuk menuju tempat yang dituju, untuk memburu mimpi yang berseru. Tidak perlu gegabah, untuk memutuskan tempat singgah, untuk meluapkan segala amarah. Tidak perlu menyumpah, untuk segalanya yang terkesan pecah. Tenangkan diri, untuk mencari. Tenangkan diri, untuk melewati semua ini. 

Menunggu Untuk Mengambil Kembali

Apa yang kamu inginkan di dunia ini? Mewujudkan mimpi. Mimpi apa? Mimpi indah disuatu hari. Apakah kamu akan menyerah? Tidak, aku hanya sedang menunggu. Menunggu apa? Menunggu waktu kapan aku bisa kembali. Kemana kamu akan pergi? Ketempat terindah yang pernah aku temui. Lalu apa yang akan kamu lakukan saat ini? Berlatih berdiri, Berdiri di kaki sendiri. Untuk apa? Untuk mengambil kembali, kebebasan yang selama ini aku nanti.

"Kau Siap?"

Hidup tidak selalu menyenangkan untuk diakui, hari tidak selalu indah untuk dijalani, semua dapat terjadi, tanpa sama sekali kita ketahui. Kehilangan, sudah seperti tragedi yang terulang, setiap kehidupan dimulai dengan kata menemukan. "kau siap?" "emang apa yang bisa dipersiapkan?" Tidak ada, tidak ada yang bisa kita lakukan, ketika semua datang. Mungkin, hanya satu, yaitu bertahan, untuk kembali menyapa suatu kata pertemuan. 

Orbit (Part.2)

Dalam garis orbit yang kita miliki, kita memiliki ceritanya sendiri-sendiri. Bertahun-tahun berputar tanpa ada yang mengetahui, terbakar bola api ketika jalur tidak terkendali, bersusah payah berjuang sendiri dalam dingin angkasa tanpa ada yang peduli. adalah alur yang memang harus kita lewati dan jalani. Karena, dalam garis orbit ini, kita juga dapat menemui, beberapa manusia yang berjuang untuk sama-sama selalu ada disini. walau beberapa kepala selalu penuh tanda tanya, namun tak jarang mereka tetap mencari cara untuk menikmati semua. Jadi.. mungkin, tetaplah seperti ini. berputar, bergerak, berjalan dan berlari, dalam garis edarnya sendiri-sendiri tanpa perlu saling mendahului, tanpa perlu saling menyakiti dan menghakimi, karena kita memiliki orbitnya sendiri-sendiri.  Tetaplah seperti ini, mendukung, menemani, mengerti dan memahami, dari garis orbitnya sendiri-sendiri tanpa saling mentabrakan diri. Isi hati dengan percaya, bahwa kita akan baik-baik saja, kuatkan hati untuk berp...

Burung Kecil

Ia seperti seekor burung kecil, yang selamanya selalu menanti, kebebasan yang tidak pernah ia miliki. Hidup dalam sangkar imajiner, mengurungnya,  membuat dirinya merasa bahwa, hidupnya seperti garis linear,  lurus, tidak berdetak, dirinya seperti cuitan tanpa nyawa, katanya. Yang ia nanti, adalah kebebasan, terbang dengan kepakan sayap lantang, menuju langit yang terbentang. Bersenandung riang, dengan langit sebagai pilihannya untuk pulang, untuk hidup dalam dekapan nafas panjang, untuk bahagia dalam seluruh cerita dimasa depan.

Langit

Dalam perjalanan mencari, kakinya sudah banyak terluka setiap hari, tangannya lelah namun ia tahan menuju pagi, senyumnya memudar hari demi hari,  namun, selalu ia tahan dalam kata "sedikit lagi", dan berulang kembali. Yang ia tahu, ia hanya harus jadi kuat,  ntah apapun yang terjadi, ia tak mau tahu. Badai yang tidak pernah berhenti, matahari yang selalu membakar hati, apa yang kamu suka di dunia ini? "langit" katanya pasti. seakan dia tidak peduli,  seberapa banyak langit menguji,  namun, ia tetap menyukai, tanpa sebuah tapi. Jadi.. langit, tolong berbaik hati, lindungi si pencari ini. beri awan jika ia lelah berjalan, beri pelangi jika ia kehilangan harapan, beri hujan jika ia kepanasan, beri hangat matahari jika ia kedinginan, dan beri bintang untuk selalu menemani setiap ia merasa sendirian. Langit, tolong lindungi si pencari ini. 

Bersama

Beberapa manusia terkadang, hidup dalam kenangan yang menyisakan sebuah trauma, yang ia ketahui, adalah menghindar sebelum terkena, bertahun ia menjaga diri,  dari segala ancaman yang ia takuti. bertahun ia menguatkan diri, untuk melawan jika yang serupa mendekati.  Berlari, ia mengisi hari hanya dengan berlari,  menghindar untuk menyelamatkan diri sendiri. Bersiap, ia berlatih untuk terus bersiap,  berjaga-jaga untuk selalu siaga kepada hal yang tak ia terka.  Terkadang, ketakutannya seperti awan, menggumpal, gelap, diatas kepala menurunkan hujan. terkadang ia menari, dibawah air mata yang menggenangi, memeriahkan dan menyemangati diri sendiri.  Baginya, hanya dirinya yang ia punya. baginya, hanya dirinya yang harus selalu ada, melewati semua, dan menyudahi segala trauma.  Hingga, akhirnya beberapa manusia terkadang bertemu dengan yang serupa, walau cerita yang mereka punya tidaklah sama, rasa lelah dalam berlari,  membawa mereka melebur dalam su...

Orbit (Part.1)

Mungkin jarang kita sadari, bahwa dalam hidup ini, kita berputar dalam sebuah garis orbit, milik kita sendiri-sendiri. Mengelilingi sebuah bola api, tanpa mengerti, kenapa kita harus melakukan semua ini. Beberapa berputar dengan pertanyaan yang tidak mengenal kata pudar, beberapa menikmati perputarannya tanpa ada pertanyaan dalam hati yang berpendar. karena katanya, ada beberapa hal yang tidak perlu ditanyakan atau dikhawatirkan, apalagi hal-hal yang membutuhkan jawaban atau alasan. nikmati saja,  setiap inchi pergerakan dalam alur lintasan.

Dunia Baru yang Berseru

Perjalanan jauh, hari lalu terisi dengan berlari dan mengayuh, harapan yang hampir rapuh, menara yang tidak pernah dapat disentuh, membawanya kedalam perhentian berjudul sungguh. Ada rasa yang terseduh, dibalik pekat cangkir yang bergemuruh, ada tenang yang membawa sembuh, dibalik hati yang perlahan tersentuh. Luruh, cemas tidak lagi tumbuh, perjalanan tidak lagi terburu, hatinya telah menyatu, kepada dunia baru yang berseru.

Semua Terlihat Sangat Berarti

Untuk pertama kalinya, tarikan nafasnya terasa sangat lega, seakan semua beban luruh dalam kedipan mata, senyumnya mengembang menghadap angkasa, bertanya apakah ini anugrah dari sang kuasa. Rumah tua didepannya, terlihat begitu sangat sempurna di matanya, kepakan sayap yang terbang kesana dan kemari, terlihat begitu riang mensyukuri hari, terlihat sama, seperti kami. Para manusia yang mencoba mencari arti, tentang seluruh langkah yang telah dilewati, tentang pahit yang dulu hanya bisa disimpan sendiri, tentang bertahan yang hanya bisa dipahami seorang diri, ternyata, berujung ditepi jalan ini. Disini, pada momen ini, semua terlihat sangat berarti. Tidak masalah jika waktu terkesan iri, dengan cepat ia seakan menggulir diri, bermutasi dari detik menjadi hari, tidak apa, manusia-manusia itu akan selalu mencari cara untuk mengabadikan memori. Untuk pertama kalinya, tenang sungguh ada di hatinya,  seperti sudah tidak ada lagi yang ingin ia pinta di dunia, selain, keberadaan manusia ya...

Jauh Kaki Mengitari Bumi

Jauh kaki mengitari bumi, berjalan-berhenti-memulai kembali, adalah fase yang selalu datang silih berganti. Berharap akan ada rumah yang mengerti, tentang luka yang susah payah diobati, berharap akan ada rumah yang tidak menghakimi, tentang salah dalam mengambil langkah yang telah dilalui.

Tenang

Pikirannya melebur, bercampur dan terbentur. berkali-kali sebenarnya sudah ia tersungkur, dalam dunia yang dimatanya tidak kenal kata akur. Pikiranya melayang, terbang,  bersama angan yang hanya bisa ia kenang, bersama harapan yang tidak lagi terbentang. Badannya tidak mengerti, kenapa ia harus berada disini, ditempat yang tidak pernah ia kunjungi, mencari sesuatu yang tidak pernah ia ketahui. Terkadang yang ia inginkan hanyalah.. tenang.

Si Pengelana

Hidup memang tidak terduga, entah kemana kita jauh berkelana, atau sekedar berjalan sebentar mengeliling kota, dengan kopi tanpa gula, hidup bisa membawa kita untuk mendengar sebuah cerita.  Cerita tentang si pengelana, mungkin begitu kita bisa menyebutnya. Tidak tahu pasti, bagaimana kehidupan membentuknya. perjalanan yang tidak terduga, perpindahan yang dulu tidak ada habisnya, membentuknya, menjadi manusia, yang tidak ada habisnya memahami dunia dan seisinya. Kepalanya selalu bertanya, namun hatinya selalu menjaga, banyak rasa yang ia beri, pada benda yang mungkin tidak orang lain pahami, tidak pernah ia tinggalkan sendiri, baginya benda mati juga butuh dihargai dan ditemani. Tidak tahu pasti, seberapa pahit jalan yang ditempuhnya, hingga rumah kedua adalah pilihannya untuk ada di dunia. Tawa diujung kalimatnya, terdengar seperti sebuah ketegaran yang selalu ia bawa kemana dirinya berada. seperti senjata, seperti pedang, matanya,  tajam dan ramah disaat bersamaan.  Si...

Ia Hanya Ingin Hidup, Katanya

Terkadang, bukan badai besar diluar sana yang harus ia takhlukan, melainkan, gemuruh petir didalam kepala, yang harus ia kendalikan, berlayar mengarungi pikiran sendiri, menerjang kuat ombak kenyataan, yang bertentangan dengan keyakinan. tiap malam mencoba menyelamatkan diri, dari pertarungan di dalam kepala ini. Terkadang, bukan kobaran api diluar sana yang harus ia cemaskan, melainkan, ledakan amarah dalam hati yang harus ia padamkan. mencari pembenaran, namun tidak ada yang bisa disalahkan. mencari perlindungan, namun tidak ada yang bisa menenangkan. tiap hari menyirami hati, memadamkan kobaran api diri sendiri.  Tidak ada pembeda diantara tangis atau tawa, semua terlihat lucu katanya. Dunia yang tidak ia kenali, menyapa dan melahapnya tanpa peduli. Kenyataan yang tidak ingin ia ketahui, menyuguhkan fakta yang tidak bisa ia hindari. "Hadapi!" teriak langit disuatu hari. Ia yang selalu berlari,  tidak memiliki pilihan, selain menjadi berani. sekali ini, untuk saat ini, bara...

Beranjak Dewasa

Mungkin, bagi beberapa manusia.. bukan menjadi tua, yang ia takutkan saat beranjak dewasa. Namun, yang ia takutkan adalah tentang.. menjadi manusia yang harus mampu untuk menahan semua, menahan semua kecewa yang dirasa, menahan tangis dan mengubahnya menjadi tawa, menahan rasa bahagia agar tidak habis tak bersisa. intinya.. menahan semua yang dirasa dibalik sebuah kata  "tidak apa-apa" Dipaksa untuk bisa, dituntut untuk memiliki segalanya, di usia muda, harus sempurna, kata mereka. Tidakkah semua seperti jebakan, jika begini rasanya? Menjadi dewasa, mungkin adalah perjalanan dan pembelajaran setiap manusia, jika saat ini belum bisa untuk memahami semua, untuk memiliki segalanya, untuk menjadi apa kata mereka, mungkin..  tidak apa-apa juga.. Karena beberapa manusia, jika terlalu dituntut dan dipaksa, tak jarang mereka akan hilang pada akhirnya, tersesat dan tenggelam, sembari bertanya, milik siapa hidupnya sebenarnya? suara siapa yang harus ia dengar seutuhnya? hati mana yang...

"Sampai nanti, kau akan bahagia kembali."

Mata yang panas, hati yang kering, tangis yang pecah, pipi yang basah, mulut yang bisu, suara yang tak terdengar, pikiran yang tak jelas. Kecewa yang membara, hati yang hangus, tubuh yang lemah, tidak berdaya. Bahagia yang jauh, matahari bersembunyi, gemuruh jatuh, hujan tiba, matahari tak tenggelam, kaki langit menghitam,  gelap tanpa malam. Harap, "Harap bersabar" katanya, Bertahan, "Bertahan dulu!" teriaknya, "Sampai kapan?" teriak seorang manusia, suara yang tersisa, bertanya kepada langit dan semestanya. "Sampai nanti, kau akan bahagia kembali."

Impian, Ketakutan dan Keberhasilan

Tidak ada yang lebih menggetarkan, selain jembatan menuju impian yang diidam-idamkan,   Tidak ada yang lebih menakutkan, Selain kegagalan dan kejatuhan dalam melalui semua cobaan,   Tidak tahu apa yang akan terjadi, Tidak tahu apa yang dirasa, Karna saat ini.. “Tidak ingin membuat kecewa” adalah yang tersisa di dalam kepala.   Tidak bisa kembali, Tidak bisa berhenti sendiri, Tak ada jalan selain melewati..   Segala ketakutan yang tersisa di dalam diri.   Karna yang aku percayai.. tidak ada yang lebih menakjubkan, Selain keberhasilan yang menunggu dihujung jalan nanti.

Pada Waktunya

Beberapa manusia, seakan hidup di dalam kepala manusia lainnya, tergenggam dalam kepalan mengadah di setiap malamnya, Tidak berbicara, tidak juga menyapa, namun ada, dimana dan kemanapun dirinya berada. Usahanya,  bisa jadi berujung sia, namun berhenti bukanlah keputusannya, karena ia percaya, akan ada waktu dimana ia bisa menunjukan semua. Tidak apa jika saat ini hanya ada di dalam doa, karena nanti pada waktunya, pada jalannya, entah harapannya akan menjadi nyata, atau tergantikan oleh lainnya, semua ia percayakan kepada-Nya. Sang pemilik semesta, dan sang pengabul segala doa.

Memulai Kembali

Kita menghitung hari, menaruh mimpi, untuk berjumpa lagi. Jika bisa, mari bercerita, tentang mimpi yang tidak biasa. Melawan samudera, terbang diangkasa, dan hanyut dalam bahagia. Sederhana, namun sulit untuk bisa, Rencana, itu yang belum dicoba. Jika nanti, dunia membawa kalimat "sekali lagi" tidak ada salahnya, kita memulai kembali.

Yang Berjuang, Telah Menang

Mungkin, saat ini bagi beberapa manusia, perpisahan tengah akrab menyapa, kedatangan yang sangat ditakutkan, terjadi tanpa peringatan, dan kita tertunduk pada kenyataan, dipaksa menerima segala kepahitan tanpa persiapan. Mungkin saat ini, rasanya.. Sulit untuk melanjutkan, sebuah kehidupan yang masih panjang mereka katakan, sulit untuk kuat apalagi menguatkan, karna tubuh seperti telah lebur dan habis dalam kepedihan. Setengah jiwa rasanya telah pergi, ikut terbang tinggi, bersama mereka yang telah mendahului. Sendiri, rasanya sangat sepi. dan mungkin,  tidak banyak yang dapat mengerti dan memahami, bahwa semua memang berat rasanya untuk dilalui. Mungkin, inilah yang dikatakan kehidupan, tidak ada yang abadi dalam pelukan, yang berjuang, telah menang, dan mereka terbang, menuju keabadian untuk pulang. Kenangan yang mereka tinggalkan, simpanlah dalam ingatan, taruh dalam jiwa terdalam, karena mereka akan selalu ada disana disaat semangatmu padam, Ambil waktu hingga terasa tenang, s...

Cerita dengan dirinya

Beberapa cerita, akan selalu terkenang didalam jiwa. Canda dan tawa yang menjadi hal biasa, tidak mudah terhapus begitu saja. Walau lama semua sudah berakhir, walau bertemu seperti sudah tidak mungkin, namanya tidak akan pernah tersingkir. Semua akan disimpan dan tersimpan, namanya akan selalu didoakan, bahagianya akan selalu diharapkan. Beberapa cerita, akan selalu terkenang didalam jiwa, termasuk cerita dengan dirinya.

Ia Si Berkepala Awan

Ia si berkepala awan, yang selalu meneduhkan beberapa orang saat siang, kemudian berlari saat petang datang, ke luas hamparan ladang, menumpahkan seluruh tangis yang ia tahan saat malam. Kesehariannya, terkadang ia juga sering kesulitan, pandangannya seakan tertutup oleh sesuatu yang sulit ia jelaskan.  susah baginya untuk berterus terang, bercerita secara gamblang, tentang apa yang ia rasakan.  Karena pasti, hujan akan datang, dan petir bermain bergantian, menakuti dan tak jarang melukai, para kerumunan yang kemudian berlari tak karuan. Ia si berkepala awan, yang berusaha memaafkan diri sendiri ditengah malam, yang berusaha memaklumi seluruh ketakutan yang mereka utarakan, dan berusaha untuk selalu tersenyum 'tuk melanjutkan keseharian.  Berat atau ringan yang ia rasakan, tetap tidak pernah ia mengutuk kehidupan, karena ia masih percaya, apapun bentuk dirinya, tetap akan ada dunia yang mampu menerimanya.  Mungkin belum sekarang, namun waktu itu pasti akan datang....

Berjalan Kembali

Beberapa dari kita, pasti pernah merasa, tentang betapa sulitnya untuk ada di dunia. betapa susahnya untuk melawan dan berdamai kepada ketakutan dan kecemasan yang selalu ada. dan betapa sulitnya untuk berjalan dan percaya kepada harapan yang juga belum nyata. Hingga akhirnya beberapa manusia, berjalan dengan tanya yang memenuhi kepala. apakah ini kehidupannya? apakah ini semua nyata? apakah ia benar-benar 'hidup'? atau hanya sekedar 'ada'? Beberapa dari kita, pasti juga pernah merasa, tentang betapa sulitnya untuk bercerita, membagi kisah bahagia ataupun kecewa, namun tak pernah bisa. Tidak ada yang peduli, tidak ada yang mengerti, yang terdekat belum tentu mampu menghargai, yang terjauh belum tentu juga bisa dipercayai. Hingga bertambah lagi, pertanyaan manusia di dunia ini. kenapa tidak ada yang peduli? apakah aku harus melanjutkan semua ini? tidakkah mereka seharusnya mengerti  tentang jerih payahku selama ini? apakah sebaiknya aku menyudahi karena semua.. ternyata ...

Kamu Tidak Sendiri

 Di dunia ini, ternyata kita tidak pernah sendiri, dalam menghadapi perasaan yang sering menghantui, dikucilkan, disalahkan, dikecewakan, tidak diinginkan, dan kembali ditinggalkan.. sama-sama kita alami. dan, ternyata kita juga tidak pernah menyadari, banyak sekali mata manusia yang berusaha berbicara dan bercerita menjeritkan seluruh pedih yang ia rasa, namun.. tak pernah bisa,   airnya  pun tidak cukup untuk menumpahkan semua luka. segalanya seakan masih tersisa, membekas dalam nyawa hati setiap manusia. di dunia ini, ternyata banyak juga manusia yang memilih pergi, kesana dan kemari, mencari rumah yang ia gunakan untuk kembali. namun.. tak pernah ia dapati, ketenangan yang ia cari selama ini, semua terasa jauh sekali dari hati. dan banyak manusia yang selalu menanti, kapan, derita ini dapat diakhiri. Walau semua luka hanya bisa disimpan di dalam hati, ditangisi seorang diri, percayalah kamu tidak sendiri. karna kita juga mengalami. Jadi, untuk saat ini Tariklah ...

Selamat Lebaran

Hai.  Selamat lebaran. Walaupun seluruh ekspektasi, dan segala pertanyaan yang nanti akan didengar, belum terwujud atau menemui jawaban, tidak apa, santai saja, tetaplah berjalan, Tenangkan pikiran, mengenai proses kehidupan, tidak perlu cepat-cepat dipaksakan, jauhkan beban, dan nikmatilah semua perlahan.  Karena mereka yang mengerti, akan sabar memahami dan menanti, bahwa kehidupan memang tidak mudah untuk dilalui, jadi teruslah berani, walaupun hanya sebuah senyum yang bisa diberi saat ini, tetaplah ada dan berusaha diesok hari. Nikmati perayaan tahun ini, dekat atau jauh, bersama atau sendiri, ramai atau sepi, tetap syukuri kesempataan ini dari hati. Dan untuk mereka yang telah pergi, tidak bisa lagi menemani perayaan tahun ini, tidak perlu terlalu lama kamu sedihi, ikhlasi keadaan ini dari hati, karena mereka, pasti akan tersenyum dari tempatnya tanpa kamu ketahui, melihat betapa kuat kamu melewati semua ini sendiri. Selamat lebaran, semoga kita dapat selalu bertemu di t...

Manusia Diluar Sana

 Diluar sana, ternyata banyak sekali manusia, yang tengah berjuang, disetiap harinya.  Kesana-kemari, pulang dan pergi, berkerja-beristirahat, berhenti dan memulai kembali, mereka lalui.  Harapan dan tuntutan, sudah terlalu bias untuk dihiraukan, kini apapun dilakukan, agar dapat bertahan di tengah ketidak pastian. semua diusahakan untuk membahagiakan.  Diluar sana, ternyata banyak sekali manusia, yang sedang kecewa atau terluka, tidak baik-baik saja, namun tetap dapat tertawa, seakan tidak terjadi apa-apa. Ya beginilah rasanya menjadi dewasa, kata mereka.  Harus bisa dan terbiasa, karena dunia suka bercanda.  Ramai hingga sepi, bersama kemudian sendiri, tertawa lalu hampa, mereka rasakan semua.  Diluar sana,  semua manusia, ternyata memiliki bahagia dan sedih yang berbeda, dunia yang senang bercanda, tidak pilih-pilih kepada siapa ia ingin mencoba. dan kita manusia, tidak perlu membandingkan semua hal yang dirasa, karena sedih atau bahagia,...

Kita Pernah Bahagia

Pada waktu titik tertentu, tentu kita pernah merasa bahagia, mengenal bahwa dunia ternyata terdiri dari berbagai warna, yang belum pernah kita rasakan sebelumnya. Tawa, seperti hal yang disyukuri berkali-kali, tidur yang nyenyak, tanpa khawatir tentang esok hari, juga pernah kita alami.  Seakan hidup benar-benar terasa sedang berada dipuncak komedi tertinggi, pada titik itu, kita pernah merasa bahagia, setelah dahulu menunggu perputaran yang lama, akhirnya kita pernah merasakannya juga. Walaupun, banyak yang telah terjadi, banyak yang telah terlalui  hingga kini..  kita sudah berada di puncak terendah lagi, semua yang berlalu sudah tidak sama lagi, dan semua yang dahulu sudah menjadi masa lalu, tidak apa-apa. Beberapa hal memang tidak bisa dipaksakan, karena mungkin saja nantinya bisa menyakitkan, beberapa hal memang harus diikhlaskan, karena bagaiamanapun, diakhir cerita selalu tentang merelakan. Yang hadir kemudian pergi, yang dulu bersama kemudian tidak lagi sama, yang...

Kita Hanya Manusia Biasa

Pada akhirnya, kita hanyalah manusia biasa, yang masih banyak tidak mengerti tentang dunia dan manusia, yang terkadang tidak bisa melakukan apa-apa juga.  Banyak salah yang kita lakukan, banyak perkiraan yang terlewat kita perhitungkan, dan banyak hal yang tidak bisa kita lakukan bersamaan.  Menjadi kuat terkadang seperti jebakan, karena akan ada suatu hal yang harus dikorbankan, tak jarang, perihal rasa-merasa-dan perasaaan, sering kita matikan.  Kehidupan seakan berjalan hanya untuk memenuhi tuntutan, dikejar habis-habisan, tak ada jeda untuk mengatur pernafasan.  Pada akhirnya kita hanyalah manusia biasa, menjadi lemah terkadang juga tak apa, menjadi salah juga hal yang biasa, karena kita juga sama sama pertama hidup di dunia.  Pada akhirnya kita hanyalah manusia biasa, yang jauh dari kata sempurna, dan lagi-lagi hal itu tak apa, bukan kewajiban kita juga untuk memenuhi ekspektasi semua. Pada akhirnya kita hanyalah manusia biasa, sungguh biasa dan tidak ada ...

Tebing

Terkadang, ada masa dimana kita seperti.. berdiri di ujung tebing yang sangat tinggi. Setelah semua perjalanan yang kita lalui, seakan semua berujung ke tebing yang sama lagi. mirip seperti tebing ini.  Terkadang, ada masa dimana, kaki terasa begitu lemas untuk berdiri, terlalu kuat pula angin berhembus diatas sini. Terkadang, ada masa dimana yang kita butuhkan, hanyalah satu alasan kenapa kita harus bertahan. bertahan saat hidup seakan tidak lagi menyuguhkan pilihan. Terkadang, ada masa dimana akhirnya kita tersungkur, sulit sekali rasanya untuk bangkit, karena kehidupan terasa begitu sangat pahit.  Tubuh yang sakit, jiwa yang terhimpit, diatas bukit, hati menjerit. "Tak apa, ini hanya sementara" "Tak apa, kitakan manusia" "Tak apa, semua akan baik-baik saja" Mungkin jika sudah seperti ini.. tidak baik juga jika kita terlalu memaksakan diri, untuk mencari satu atau seribu alasan mengapa kita harus bertahan di dunia ini.  bisa jadi alasan bukanlah satu-sa...

Tuntutan

Tanpa disadari, bertahun-tahun kita habiskan, untuk mewujudkan tuntutan, yang tidak pernah menjadi pilihan jalan kehidupan. Berat, sudah pasti. lelah, jangan ditanyakan lagi. tidak pernah cukup, seakan balasan dari semua yang sudah dilalui. Perjalanan panjang, kita lalui untuk siapa? perihal membahagiakan, kita tuju untuk siapa? karena salah seakan selalu untuk kita. Menyimpan luka agar tidak terlihat, ternyata tidak membuat semua semakin erat. penat,  ditambah tidak bisa berpendapat.  rehat? mana sempat. Apakah semua tuntutan,  harus selalu diwujudkan? dimana kehidupan yang katanya pilihan? apakah begini kehidupan seharusnya dihabiskan? hanya untuk membuktikan, dengan harapan dapat membanggakan. Lalu bagaimana dengan semua yang sudah diupayakan, semua kebaikan yang berujung dengan ketidak-percayaan, apakah akan disebut kegagalan,  jika semua prestasi yang didapatkan, tetap tidak pernah dihiraukan? Karena berpura-pura, sangat menguras tenaga. Namun menjadi apa adanya...

Tentang Ketakutan

Menurutku, kita semua pasti memiliki suatu ketakutan, yang tidak bisa kita ungkap atau jelaskan. Karna kita juga tidak mengerti, dari mana dan kenapa bisa ketakutan itu melekat di dalam hati.  Bertahun hidup dalam kegelapan, pasti akan sangat senang ketika ada cahaya yang tak diundang datang, seperti menemani hari-hari,  menghadirkan gelak tawa yang susah berhenti, membuat perjalanan kini terasa lebih berarti. Namun ditengah kebahagiaan yang sedang dirasakan, rasa takut datang mengetuk pintu harapan, katanya "jangan dulu terlalu senang" "-karna kegelapan bisa saja juga datang tanpa diundang," dan kita tertunduk dalam diam, memikirkan segala kemungkinan terburuk yang bisa saja datang, menarik diri dari kesenenangan, dan memilih untuk tidak merasakan agar tidak kecewa dimasa depan, tanpa sadar, sering kita lakukan.  Namun jika diingat kembali, sudah berapa kesempatan yang terlewat karena kita khawatir akan kesalahan di masa depan? sudah berapa banyak kehilangan yang d...

Part 2. (Ia Bukan) Manusia Buta Rasa

Selama ini, ada seorang manusia yang tinggal dalam menara tinggi, rerumputan yang jauh dari kaki, membuat ia sadar sudah terlalu lama ia mengurung diri diatas sini. Rasa bersalah tak jarang datang menghantui, pertanyaan yang tak pernah ada jawaban, ia fikirkan sendiri sejauh ini.  Hingga datang suatu pagi, saat sinar mentari menyapa dari ufuk yang jauh sekali, tersenyum  sembari menyinari sudut gelap yang tak pernah ia sadari. "hidup tidak sebatas tentang salah dan benar bukan?" "hidup tidak harus diisi dengan berbagai tanya yang memusingkan kan?" "kalau kamu salah, hidup tidak berhenti sampai disini kan?" tanyanya disuatu pagi. Tersadar ia atas kegelisahan yang menyita diri, ia lihat cahaya itu sekali lagi "ayo keluarlah dan nikmati hari"  ajaknya sambil berlari.  Bertahun berdiam diri, mencari pertolongan karena takut akan sepi, kini manusia itu keluar dari menara imajinasi yang ia pasang dalam pemikirannya sendiri, jika dahulu ia menunggu sia...

Part 1. Manusia Buta Rasa

Dahulu banyak manusia yang berteriak, tentang seorang manusia yang buta rasa,  tentang usaha yang diberi selalu berujung sia, dan tentang menara yang menjulang tinggi, yang dipanjat tak akan pernah bisa.  Segala cerita yang mencela, menjadi jejak akhir dari perjuangan yang tak bersisa. "kau si buta rasa!" teriak mereka.  Menaranyapun semakin bertambah tinggi, apa yang salah dari melindungi diri sendiri? Pintu semakin rapat terkunci, membuat ia menarik diri, lebih jauh lagi.  Malam ia lewatkan seorang diri, mempertanyakan semua hal yang ia tidak mengerti, tak jarang ia kehabisan akal melihat semua yang terjadi. sempat ia mengiyakan, segala kata yang menghakimi, ia terima bulat-bulat sendiri.  Namun, lagi dan lagi semua hari ia isi dengan bertanya dalam hati, berputar dalam menara tinggi kesana-kemari, mencari jawaban tentang salah yang ia tidak ketahui.

Pejuang

Tulisan ini, dibuat dan dibacakan untuk seorang pejuang. Satu kata pembuka yang akan aku ucapkan adalah : "Terimakasih telah bertahan" Aku tidak akan pernah bisa membayangkan, tentang semua luka yang kamu simpan sendirian, tentang semua tanggung jawab yang kamu pikul dalam diam, dan tentang semua harap yang kamu dekap erat untuk diwujudkan di masa depan. Kamu adalah pejuang, yang tidak pernah lelah, walau sudah ribuan patah dan kehilangan arah, namun tak pernah memilih berhenti dan terus melanjutkan langkah. Kamu adalah pejuang, yang mampu mengubah segala cerita yang kurang menyenangkan, menjadi suatu hal yang sangat membanggakan. Walau ditengah perjalanan tak jarang kamu ditempa banyak kehilangan, namun terimakasih karna kamu mampu untuk terus berjalan, percayalah semua kehilangan akan membawamu kembali dalam sebuah pertemuan baru, yang tidak pernah kamu tahu, bahkan tidak pernah kamu tunggu.  Jadi untuk si pejuang itu .. Kuatkan diri selalu, Karna terkadang hidup mungkin m...

Tentang Kehilangan

Tidak ada hal yang menyenangkan, jika kita berbicara tentang kehilangan. Tidak ada hal yang lebih mengharukan, jika kita melihat tatapan yang penuh akan kerinduan, akan hal-hal yang tidak dapat tersampaikan. Tentang kehilangan, adalah bagian salah satu dari bab kehidupan. yang sejujurnya kita tidak akan pernah siap untuk menjalankan. Namun beberapa kehilangan, tidak harus kita sesalkan, baik pertemuan atau perpisahan, semua adalah bagian dari kehidupan. Tidak ada juga yang harus kita salahkan, karena beberapa hal, memang tidak dapat dikendalikan. Bertahan, mari tetap terus bertahan. Karena pada akhirnya bab kehilangan, harus ditutup dengan merelakan. Berjalan, mari untuk terus berjalan. Walaupun semua tampak tidak mudah, Jangan dulu menyerah.. Belajar, mari kita belajar. tentang bagaimana kita harus selalu menghargai, semua yang masih ada disini-kini. tentang bagaimana kita harus mengikhlaskan, semua kehilangan dan perpisahan. Kini, hal-hal yang menyedihkan, tidak harus selalu disimpan...

Si Penyangkal Ulung

 Ia  adalah si penyangkal ulung, yang tidak pintar dalam menerjemahkan, semua hal yang ia simpan dan ia rasa. Ia lari kesana kemari, membawa ceritanya yang penuh luka dan duka. dan ia terus berlari, dari semua manusia yang mencoba menolong dan membantunya. mengurangi rasa sedih dan menurunkan sedikit beban yang ia bawa setiap ia pergi.  Ia si penyangkal ulung, lucu ketika ia berteriak  "kenapa tidak ada yang peduli!" "aku selalu merasa sendiri disini!" "aku seperti terjebak di sangkar yang aku tidak akan pernah bisa keluar!" ketika selama ini yang ia lakukan hanyalah  memukul semua untuk pergi, menjauh ketika ada yang peduli, dan menutup diri karna ia fikir semua orang akan mencoba menyakiti.  Namun,  apapun yang ia lakukan, ia tidak pernah membenci, tak ada yang ia benci, selain dirinya sendiri.  Disuatu sisi yang lain, tak ada yang membuatnya sedih, selain kepergian manusia yang tak bisa ia panggil kembali. Ia si penyangkal ulung, yang seharusn...

Ekspektasi

Yang menyakiti, terkadang adalah ekspektasi, yang kita pasang seorang diri. Kita mudah kecewa, kita mudah terluka, saat semua tidak sejalan dengan realita. Dan kitapun tidak mampu untuk menerima, mencari yang bisa disalahkan, satu-satunya apalagi selain keadaan? Dan tak jarang kita tenggelam, dalam lautan fana, dengan rasa penyesalan dan kegagalan. Tidak ada yang bisa diubah, dari yang sudah-sudah. Tidak ada yang bisa kembali, dari kesempatan yang telah pergi. Kini yang kita punya adalah waktu,  untuk menyusun harapan baru. Belum saatnya kita harus berhenti, karna semua belum berakhir sampai disini. Mari berdiri, hentakkan kaki untuk berani menghadapi dunia.. berkali-kali lagi. Jangan lupa atur ekspektasi, agar ia tidak menyakiti kita sekali lagi. 

Karena kita belum sampai-

kita.. sudah bertahun-tahun telah tercipta, bertahun-tahun ada, dan bertahun-tahun kita bertahan. Banyak yang sudah kita lalui, suka dan duka, semua kita rasakan tanpa terkecuali, kita.. juga pernah hampir menyerah, tersungkur, jatuh, menangis, merasa payah,  dititik terendah..kita pernah.  Sadar tidak? dengan semua yang telah terlalui, kita masih ada disini, Bertahun-tahun kita jalani, jangan bilang hidup kita tidak ada arti, karena semua luka tidak harus dibenci, beberapa lebih baik dimaknai, agar kita tetap memiliki hati yang terisi.  Bertahun-tahun kita lewati, banyak gagal yang pernah kita alami, hebat, kita tetap tidak berhenti.  walaupun, rasanya ada beberapa harapan yang terkikis, namun harapan kita tidak pernah habis, kita terus berjalan, ternyata tanpa diketahui, ada jalan dan harapan baru yang kita temukan. Intinya, setelah bertahun-tahun ini, kunci untuk ada hingga sampai disini, yaa berjalan saja bukan? Menikmati semua perjalanan, hinga satu-satu semua ...

Lagi

Lagi,  suara dan ingatan itu kembali lagi, memenuhi kepala, menyesakkan hati. Lagi, suara pukulan itu terdengar lagi, terulang di telinga, terekam di pipi. Lagi, lagi-lagi mempertanyakan, apa salah ku disini, diam ditendang, bersuara disalahkan. Lagi,  semua tragedi itu terputar lagi, trauma datang kembali, menutup pintu percaya diri. Lagi, dan aku harus berdamai lagi, pada ketakutan yang mencekam hari, merenggut nafas kedamaian abadi. dan lagi, aku harus memaafkannya sekali lagi. 

Ini Bukan Akhir Perjalanan

Sampai kapan kita harus menyalahkan keadaan? selalu mencari pembenaran, apakah akan terus menyelamatkan? hati-hati tenggelam, terhadap impian yang belum sejalan dengan kenyataan. hati-hati kehilangan, terhadap orang-orang yang berusaha sabar namun selalu disalahkan.  Sampai kapan harus terlalu keras? selalu membenturkan diri,  mungkin bisa membuat kita terbentuk, namun tak jarang yang selalu terbentur akan pecah dan hancur. Hidup selalu berputar, dan tidak selamanya kita yang menjadi porosnya. Karena yang benar bisa menjadi salah, yang salah bisa menjadi benar, yang terbentuk bisa hancur, yang hancur bisa kembali dibentuk.  Sekeras dan setidak adil apapun yang dirasakan, bukanlah situasi akhir dari perjalanan, persilahkan kehidupan untuk membentukmu menjadi sesuatu yang lebih baik kedepan, ikhlaskan segala kepahitan, agar nanti kita bisa menghargai manisnya kehidupan. Lupakan salah dan benar, dan nikmati pembelajaran dari perjalanan, Lupakan sejenak yang dirasakan, entah...

Untukmu si Penggenggam Bayangan

Mungkin kita pernah merasakan bagaimana sesaknya udara.. saat kita memilih untuk bertahan, walaupun sebenarnya tidak ada hal yang bisa dipertahankan juga, namun kita memilih untuk menggenggam, dari pada melepasnya yang akan terbang menjadi sebuah kenangan. Mungkin sejauh ini,  kita sudah sangat tulus untuk bertahan tanpa alasan, untuk memahami tanpa harus membenci, untuk menjaga tanpa harus terlihat ada. Namun jika dipikir kembali, apakah dengan menggenggam membuat kita bahagia? atau sebenarnya semakin tersiksa? Mungkin kita tidak merasa,  karena selama ada dirinya, kita tak apa. Namun yang namanya bertahan,  semua manusia memiliki batasnya sendiri sendiri, Tidak baik untuk membiarkan diri sendiri terluka setiap hari. bertahanlah terhadap hal-hal yang layak diperjuangkan, bukan kepada sebuah bayangan yang kau genggam erat dengan harapan. Karena beberapa kepergian, memang harus diikhlaskan. Agar ia bisa terbang tinggi, bebas dan bahagia seperti yang kita harapkan.  Ka...