Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2021

Si Penyangkal Ulung

 Ia  adalah si penyangkal ulung, yang tidak pintar dalam menerjemahkan, semua hal yang ia simpan dan ia rasa. Ia lari kesana kemari, membawa ceritanya yang penuh luka dan duka. dan ia terus berlari, dari semua manusia yang mencoba menolong dan membantunya. mengurangi rasa sedih dan menurunkan sedikit beban yang ia bawa setiap ia pergi.  Ia si penyangkal ulung, lucu ketika ia berteriak  "kenapa tidak ada yang peduli!" "aku selalu merasa sendiri disini!" "aku seperti terjebak di sangkar yang aku tidak akan pernah bisa keluar!" ketika selama ini yang ia lakukan hanyalah  memukul semua untuk pergi, menjauh ketika ada yang peduli, dan menutup diri karna ia fikir semua orang akan mencoba menyakiti.  Namun,  apapun yang ia lakukan, ia tidak pernah membenci, tak ada yang ia benci, selain dirinya sendiri.  Disuatu sisi yang lain, tak ada yang membuatnya sedih, selain kepergian manusia yang tak bisa ia panggil kembali. Ia si penyangkal ulung, yang seharusn...

Ekspektasi

Yang menyakiti, terkadang adalah ekspektasi, yang kita pasang seorang diri. Kita mudah kecewa, kita mudah terluka, saat semua tidak sejalan dengan realita. Dan kitapun tidak mampu untuk menerima, mencari yang bisa disalahkan, satu-satunya apalagi selain keadaan? Dan tak jarang kita tenggelam, dalam lautan fana, dengan rasa penyesalan dan kegagalan. Tidak ada yang bisa diubah, dari yang sudah-sudah. Tidak ada yang bisa kembali, dari kesempatan yang telah pergi. Kini yang kita punya adalah waktu,  untuk menyusun harapan baru. Belum saatnya kita harus berhenti, karna semua belum berakhir sampai disini. Mari berdiri, hentakkan kaki untuk berani menghadapi dunia.. berkali-kali lagi. Jangan lupa atur ekspektasi, agar ia tidak menyakiti kita sekali lagi. 

Karena kita belum sampai-

kita.. sudah bertahun-tahun telah tercipta, bertahun-tahun ada, dan bertahun-tahun kita bertahan. Banyak yang sudah kita lalui, suka dan duka, semua kita rasakan tanpa terkecuali, kita.. juga pernah hampir menyerah, tersungkur, jatuh, menangis, merasa payah,  dititik terendah..kita pernah.  Sadar tidak? dengan semua yang telah terlalui, kita masih ada disini, Bertahun-tahun kita jalani, jangan bilang hidup kita tidak ada arti, karena semua luka tidak harus dibenci, beberapa lebih baik dimaknai, agar kita tetap memiliki hati yang terisi.  Bertahun-tahun kita lewati, banyak gagal yang pernah kita alami, hebat, kita tetap tidak berhenti.  walaupun, rasanya ada beberapa harapan yang terkikis, namun harapan kita tidak pernah habis, kita terus berjalan, ternyata tanpa diketahui, ada jalan dan harapan baru yang kita temukan. Intinya, setelah bertahun-tahun ini, kunci untuk ada hingga sampai disini, yaa berjalan saja bukan? Menikmati semua perjalanan, hinga satu-satu semua ...

Lagi

Lagi,  suara dan ingatan itu kembali lagi, memenuhi kepala, menyesakkan hati. Lagi, suara pukulan itu terdengar lagi, terulang di telinga, terekam di pipi. Lagi, lagi-lagi mempertanyakan, apa salah ku disini, diam ditendang, bersuara disalahkan. Lagi,  semua tragedi itu terputar lagi, trauma datang kembali, menutup pintu percaya diri. Lagi, dan aku harus berdamai lagi, pada ketakutan yang mencekam hari, merenggut nafas kedamaian abadi. dan lagi, aku harus memaafkannya sekali lagi. 

Ini Bukan Akhir Perjalanan

Sampai kapan kita harus menyalahkan keadaan? selalu mencari pembenaran, apakah akan terus menyelamatkan? hati-hati tenggelam, terhadap impian yang belum sejalan dengan kenyataan. hati-hati kehilangan, terhadap orang-orang yang berusaha sabar namun selalu disalahkan.  Sampai kapan harus terlalu keras? selalu membenturkan diri,  mungkin bisa membuat kita terbentuk, namun tak jarang yang selalu terbentur akan pecah dan hancur. Hidup selalu berputar, dan tidak selamanya kita yang menjadi porosnya. Karena yang benar bisa menjadi salah, yang salah bisa menjadi benar, yang terbentuk bisa hancur, yang hancur bisa kembali dibentuk.  Sekeras dan setidak adil apapun yang dirasakan, bukanlah situasi akhir dari perjalanan, persilahkan kehidupan untuk membentukmu menjadi sesuatu yang lebih baik kedepan, ikhlaskan segala kepahitan, agar nanti kita bisa menghargai manisnya kehidupan. Lupakan salah dan benar, dan nikmati pembelajaran dari perjalanan, Lupakan sejenak yang dirasakan, entah...

Untukmu si Penggenggam Bayangan

Mungkin kita pernah merasakan bagaimana sesaknya udara.. saat kita memilih untuk bertahan, walaupun sebenarnya tidak ada hal yang bisa dipertahankan juga, namun kita memilih untuk menggenggam, dari pada melepasnya yang akan terbang menjadi sebuah kenangan. Mungkin sejauh ini,  kita sudah sangat tulus untuk bertahan tanpa alasan, untuk memahami tanpa harus membenci, untuk menjaga tanpa harus terlihat ada. Namun jika dipikir kembali, apakah dengan menggenggam membuat kita bahagia? atau sebenarnya semakin tersiksa? Mungkin kita tidak merasa,  karena selama ada dirinya, kita tak apa. Namun yang namanya bertahan,  semua manusia memiliki batasnya sendiri sendiri, Tidak baik untuk membiarkan diri sendiri terluka setiap hari. bertahanlah terhadap hal-hal yang layak diperjuangkan, bukan kepada sebuah bayangan yang kau genggam erat dengan harapan. Karena beberapa kepergian, memang harus diikhlaskan. Agar ia bisa terbang tinggi, bebas dan bahagia seperti yang kita harapkan.  Ka...