"Sampai nanti, kau akan bahagia kembali."
Mata yang panas,
hati yang kering,
tangis yang pecah,
pipi yang basah,
mulut yang bisu,
suara yang tak terdengar,
pikiran yang tak jelas.
Kecewa yang membara,
hati yang hangus,
tubuh yang lemah,
tidak berdaya.
Bahagia yang jauh,
matahari bersembunyi,
gemuruh jatuh,
hujan tiba,
matahari tak tenggelam,
kaki langit menghitam,
gelap tanpa malam.
Harap,
"Harap bersabar" katanya,
Bertahan,
"Bertahan dulu!" teriaknya,
"Sampai kapan?"
teriak seorang manusia,
suara yang tersisa,
bertanya kepada langit dan semestanya.
"Sampai nanti,
kau akan bahagia kembali."
Komentar
Posting Komentar