Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2020

Menarik Diri

kini kusadari, kehidupan yang aku jalani, bukanlah untuk memenuhi seluruh ekspektasi,  bukan untuk mewujudkan harapan yang berbeda dengan jalan pilihan.  tidak jarang, berusaha 'ada' terkadang begitu menyiksa, karna 'kehadiran' nyatanya tidak cukup untuk membuat bangga.  lalu aku hidup untuk siapa? jika pada akhirnya, semua pergi dan hanya ada aku disini. sendiri, memeluk apa yang tersisa di dalam hati. kini kusadari, siapa yang paling tersiksa dijalan ini, aku yang selalu berusaha mewujudkan apa yang diharapkan, mewujudkan apa yang diperintahkan, lupa,  lupa jika ada suara yang juga harus aku dengarkan, suaraku sendiri,  suaraku yang juga punya harapan,  yang juga punya impian, yang ingin menikmati kehidupan.  aku yang selalu berusaha agar dicintai, tak jarang merasa bahwa mungkin sebenarnya aku dibenci. aku lupa, bahwa diam-diam tanpa diketahui, aku juga telah menanam ekspektasi. yang merugikan diri sendiri. mungkin kini, aku perlu sedikit menarik di...

Karna kami masih ingin ada disini.

Beberapa manusia memilih bersembunyi, menenggelamkan semua yang ia simpan sendiri, dan berjalan seakan tidak ada yang terjadi.  Terkadang kita begitu pintar bermain peran, dalam sandiwara yang tidak sadar kita ciptakan. Terbeban akan ekspektasi orang, tertatih akan menyusun harapan, namun yang ditunjukan .. sebuah senyum yang susah payah dikembangkan.  Mungkin beberapa manusia sedang tidak baik-baik saja, mereka menyembunyikan kesedihan, agar tak usah kita rasakan, mereka menunjukan kebahagiaan, agar bisa ia tularkan. Tapi entah kenapa,  kebahagiaan yang jarang ia dapatkan, sering dihancurkan. Sehingga beberapa manusia mungkin kini kebingungan, karna apapun yang ia lakukan, berujung disalahkan. Tidak ada tempat untuk menjadi benar, hingga ia merasa mungkin bukan disinilah tempatku untuk besar. dan kemudian beberapa manusia memilih pergi, beberapa pergi jauh sekali tidak kembali, beberapa masih disini namun berkeliling mencari tempatnya di bumi. Mencoba, memulai, mengusah...

Perihal Tenang

Sebentar, sebelum kalian mulai membaca tulisan ini.. aku ingin bertanya, Adakah manusia di sekeliling kalian yang membantu kalian bertahan? Sekedar mendengarkan cerita kalian sehari-hari, atau mendukung impian kecil yang kalian ceritakan malam hari ? Adakah manusia yang memberikan kalian tenang ? siapapun itu,banyak atau sedikit, sejauh apapun mereka, apakah ada ? .. Jika ada,  bersyukurlah karena adanya dia atau mereka. dan lanjutkan membaca, agar kamu tahu seberapa beruntungnya dirimu. Jika tidak, tidak apa-apa, lanjutkanlah membaca, agar kamu tahu apapun kamu rasakan sekarang, yang kamu simpan dalam diam, kamu tidak sendirian.  .. Berbicara perihal "tenang", tidak semua manusia bisa merasakan. Tidak semua manusia.. mempunyai lingkungan yang mendukung asa mereka. Banyak yang merendahkan, Jangan tanya perihal "dibandingkan" karena sangat akrab untuk dirasakan.  Yang selalu berkata peduli, tak jarang malah dia atau merekalah yang paling menyakiti.  Seakan hidup menj...

Bunga

Seseorang berkata kepadaku bahwa .. manusia terkadang seperti bunga, tidak pernah sadar bahwa dirinya indah, tidak pernah sadar karna yang dilihat selalu sekitar. Namun bagiku manusia tetaplah manusia, tidak ada perumpamaan yang mampu menyerupainya.  karena yang berkata mencintai namun nyatanya melukai. yang memuji tak jarang berujung membenci. Sama halnya dengan bunga, apakah ia hidup hanya untuk dipetik lalu mati? apakah ia hidup hanya untuk dihirup sesaat lalu dibiarkan mengering sendiri? Bisa jadi bunga tidak mau tau tentang siapa dirinya, karna ketika ia tahu, bisa menjadi ancaman tersendiri baginya.  seperti bunga bangkai yang dihindari karna aromanya sendiri, atau bunga mawar yang didekati hanya untuk dipetik lalu mati.  Bisa jadi dengan melihat sekitar, memberikannya sebuah ketenangan. jangan menyalah artikan melihat sama halnya dengan membandingkan.  bunga mungkin tidak perlu tahu siapa dirinya, tidak perlu mengetahui bunga lain juga, cukuplah ia hidup denga...

Perihal Kenapa

Kenapa seiring bertambah usia, teman akrab kita adalah hampa? Kenapa seiring bertambah dewasa, sering sekali kita .. Menjaga jarak dengan manusia? Berdoa ingin bahagia, namun ketika ada yang memberi tawa, kita curiga. Kenapa ? Apakah sudah sejauh itu kita mengenal luka ? hingga bahagia seperti menjadi ancaman datangnya duka. .. Bukankah sepertinya ada yang salah dari kita?