Postingan

Menampilkan postingan dari 2022

Tertawa

Tiap kepala, pastinya hanya ingin tertawa, tapi tidak semua bisa, karena apa yang ada di dalam terkadang begitu menyiksa. Maka, jadilah apa adanya, jadilah apa yang kita bisa, Tapi terkadang semua tidak perlu merasa, cukup kita saja, yang diam-diam bertahan untuk terus dewasa. Karena apa yang ada di kepala kita, bukanlah tanggung jawab siapa-siapa, untuk membuatnya reda.   Tetap diri sendiri, yang punya kendali.   Berhenti, jika selama ini terlalu menuntut untuk dimengerti, Syukuri, setidaknya, ada beberapa yang tidak menambah deras kita di pipi.

Merayakan Sepi

Dan ia kembali, merayakan sepinya seorang diri, mengatur nafas sekali lagi, memikirkan tentang kemana langkahnya setelah ini, Dan ia kembali, memeluk tubuh kecilnya seorang diri, menahan air matanya agar tidak jatuh lagi pagi ini, Rasanya, begitu banyak yang ia khawatirkan, namun sedikit sekali yang mampu mendengarkan. Dalam kepalanya bertanya, "Haruskah ia yang terus mengandalkan diri sendiri pada akhirnya?" dan tangan-tangan kecilnya dengan cepat mendekap, berkali-kali menyelamatkan sebelum ia kembali terisak. Dalam keheningan ia menemukan jawaban diri, dan ia kembali, merayakan sepinya seorang diri. 

Ada menjadi Tidak Ada

Terkadang, sesuatu menjadi berbeda karena, apa yang biasa "Ada" telah berubah menjadi "tidak ada", dan kita hanya bisa bertanya tanpa suara perihal "kenapa?" Dan pikiran semakin bersemangat memainkan perannya, dan hati semakin kesulitan untuk mencerna apapun hasilnya. Tidak bisakah kita untuk terus menghargai keberadaan, sebelum nantinya kembali kehilangan?

Menjaga

"kau tau?" "apa?" "terkadang manusia bisa dengan begitu mudah melupa.." "melupa? tentang?" "apa saja, terlebih jika mereka merasa bahwa apa yang mereka punya sudah pastilah selamanya.." ".." "padahal tentang selamanya, tergantung bagaimana mereka menjaga." "tergantung bagaimana mereka menjaga?" "ya." "maksudmu?" "kau tidak mungkin berharap bunga dapat tumbuh mekar dan menghiasi rumahmu jika tidak kau rawat dengan baik bukan?" "..."

Lilitan Kita

Malam ini aku sedang membuat secangkir teh panas, Hatiku rasanya sedang campur aduk, entah karena apa, Rutinitas yang padat dan minimnya istirahat, mungkin satu-satunya yang bisa menjadi alasan dari ketidak jelasan yang aku rasakan. Tapi sayangnya, kesabaran ku semakin diuji malam ini, Ketika mau membuat teh untuk menenangkan diri, Kantong teh itu tidak mau bekerja sama untuk memudahkan urusanku menyeduhnya, Dia terlilit, dan aku sedikit tidak menyukai, Rintangan-rintangan kecil yang dapat memancing emosi diri. Dan akhirnya aku membiarkan ia terlilit sendiri. Aku memilih untuk tetap memasukannya kesegelas cangkir panas walaupun bentuknya menjadi aneh dan hatiku semakin ganjal melihatnya.   Namun, Ketika aku perhatikan kembali kantong teh yang terlilit itu, Tidak ada yang berubah, Dia tetap menjadi kantong teh yang dengan baik menjalankan tugasnya, Rasa teh itu tetap sama, Hanya penampilannya saja yang berbeda.   Mungkin, kantong teh yang terlilit itu sama seperti manusia, Sa...

Eternal

Planet "abadi" tidaklah ada, dan "selamanya" bukanlah hal yang nyata, karena tiap yang "berotasi" akan berhenti pada waktunya. Mungkin, satu-satunya yang abadi dan selamanya, hanyalah "cerita" yang kita pilih keberadaanya.. untuk selalu  tersimpan di dalam "jiwa". Tentang segala manis dan pahit, sembuh dan terluka, hingga menangis dan tertawa, segalanya yang menjadi pembentuk "kita" di dunia. Jadi apapun yang terjadi, janganlah pernah berhenti, teruslah berotasi, hingga nanti kau akan "mekar" pada waktumu sendiri. Karena, segala hal yang sedang kau rasakan kini, bukanlah "akhir", melainkan adalah "awal" dari hal-hal baik, yang menanti untuk kau ukir. 

Tulisan Bernada Baru

Begitu aneh rasanya,  ketika ia sudah tidak memiliki lagi.. kesedihan yang biasa ia simpan dan sembunyikan, yang beberapa diantaranya kini telah menjadi tulisan penyemangat diri, atau menjadi karya tanpa kata, yang hanya bisa dipahami oleh siapa yang bersedia.  Begitu aneh rasanya, ketika ia tidak perlu lagi kesulitan untuk merubah sesuatu yang ia rasakan,  namun, perasaan senang ternyata lebihlah susah untuk ia tuangkan.  Tentang senyum yang mengembang, tentang lagu baru yang ia dengarkan, atau tentang tenang yang ia pikir tidak pernah akan datang. Untuk pertama kali, tulisan ini adalah tentang kebahagiaan. Dan aku berharap, apa yang aku rasakan, dapat menular, mencari jalannya sendiri kepada setiap pembaca dan pendengar. Percayalah, hal baik akan datang, dan ketika ia datang, kamu akan percaya, bahwa kesedihanmu,  bukanlah selamanya untuk kamu simpan sendirian. :)

Dunia Baik

Dunia ini sedikit asing baginya, kesedihan yang dahulu ada disana, dalam sekejap sudah tidak lagi tersisa. Jalanan yang dahulu lapang dan sepi, sering sekali menjadi saksi, tentang segala sesuatu yang tidak kuat untuk ia emban sendiri. Gedung-gedung tinggi, pun juga begitu, apakah mereka pernah mencari? kemana anak kecil yang lusuh dan tertunduk lesu tidak lagi menampakan diri? Atau.. Jalanan yang menjadi ramai itu kini ikut merayakan? kebahagiaan yang sudah lama tidak pernah ia rasakan? apakah gedung-gedung itu juga ikut bersorak? seakan berakata "Akhirnya waktu ini telah datang." "dan terimakasih, pada akhirnya kau sanggup untuk bertahan." Dunia ini sedikit asing baginya, namun, dunia ini terasa lebih baik untuknya.

Bangkit Ribuan Kali

"Kau tidak akan pernah bisa hidup, jika seperti ini caramu hidup!" "Kau tidak akan mengerti,  tentang segala pahit yang aku nikmati." "Kau akan mati, jika uang tidak kau geluti!" "Aku sudah. Bahkan sebelum hal itu aku miliki." "..." " Tidak butuh apa-apa untuk menguburkan hati, aku sudah bangkit ribuan kali."

Anehnya Ingatan

Begitu aneh ingatan, tiap rekamnya mampu mengabaikan dinginnya api pertengkaran, menyebutnya sempurna walau dipenuhi ledakan. Begitu aneh ingatan, tiap salah seakan termaafkan, tiap amarah seakan terwajarkan, Tenang seperti benda asing yang tidak teringinkan, dan diri berjalan, kesana-kesini mencari jalan untuk pulang ke keliruan. Begitu aneh ingatan, ditiap perputaran, tidak mampu membedakan mana kehidupan dan kematian. 

Tidak Ada

Tidak ada, kemana? Tidak disana, dimana? Tidak juga disini, bagaimana bisa? Hampa, apa?! Kosong, kenapa?! Tidak ada.

Percakapan dengan Pohon Tua

"Bagaimana aku tahu jika sesuatu itu yang terbaik untukku?"  tanya seekor landak kecil kepada sebuah pohon tua di sebelahnya. Pohon tua itu begitu kokoh,  akarnya begitu keras,  dan tuturnya begitu bijaksana untuk siapapun yang beristirahat dan mendengarkannya. Dengan tersenyum, pohon tua itu berkata "Kau tidak akan pernah tahu landak kecil.." "Kenapa begitu??"  sang landak seperti tidak puas mendengar jawabannya. "ya.. kau tidak akan pernah tahu, jika kau sendiri yang tidak membuatnya seperti itu." Angin bertiup perlahan diantara mereka, dan jeda mengisi udara diantara landak kecil dan pohon tua. Dengan menatap ke depan, sang landak kini tahu,  dirinyalah yang harus membuat keputusan.

Selamat diwisuda

Hai,  ingat tidak beberapa tahun yang lalu  adalah moment dimana kita mengambil keputusan besar  dalam hidup kita, Berpamitan kepada orang tua, dan berpelukan untuk pergi meninggalkan kota. kita lakukan,  demi misi meraih cita yang kita dambakan. dan demi harapan besar yang ingin kita wujudkan. Dan disinilah kita bertemu, melebur dalam impian dan perjuangan, dari berbagai latar, kita berteman.  Namun sayangnya,  pada setengah perjalanan, kita dipisahkan oleh keadaan. dan diharuskan berjuang sendirian. Beradaptasi pada sesuatu yang belum pernah kita lalui, mencari cara menyesuaikan diri di tengah pandemi. Hari-hari seakan sulit untuk dilewati, dan ide entah kemana mereka pergi, hanya revisi, yang selalu datang menghampiri. Setiap malam,  kita berjalan dengan dipenuhi pertanyaan, "bisakah aku meraih cita yang kudambakan?" "bisakah aku mewujudkan harapan?" bukan  "bisakah aku menyelesaikan??" ------ Hai,  tidak disangka, beragam pertanyaan, akhi...

Dear Myself

Dear myself, Kamu lagi ngerasa hilang ya, khawatirmu sepertinya kembali lagi malam ini, rasanya dunia sekarang menjadi tempat yang salah untuk ditinggali. pun tidak ada kabar baik, hanya ada beragam masalah yang mengantri.   Kenyang dengan berbagai pertanyaan tentang langkah selanjutnya di kehidupan, Seakan berhenti dan bernafas sejenak bukanlah hal yang baik untuk dilakukan.   Hidup yang kamu rasakan juga jauh dari kata kebebasan yang kamu dambakan, Dan sayangnya waktu begitu cepat berlalu tanpa henti, hari demi hari terus bergulir tanpa ada sesuatu yang berarti.   Dear myself, Kamu lagi kebingungan ya, Aku tau kepalamu juga sudah lelah untuk terus bertanya, Hatimu juga sudah hampir lelah untuk terus percaya, Tentang segala yang ada di depan akan menghasilkan apa dan apa.   Dear myself, Mungkin yang kamu butuhkan sekarang adalah sedikit harapan, Agar kaki dapat terus kuat berjalan, Agar hati dapat terus bebal mempertaruhkan,...

Hanyut

dan Ia telah hanyut, dalam kesedihan dan warna-warna hitam, dalam deras ombak ketidak percayaan dan ketakutan, dan ia telah hanyut, dan ia telah hanyut, .. dan ia telah hanyut, .. dan.. ..ia memilih hanyut.

Tidak Baik Jika Terlalu Membenci

Tidak baik jika terlalu membenci, Tidak baik jika terlalu menghakimi, Perihal "menerima" tidaklah mudah untuk dilalui, namun, tetap besarkanlah kapasitas hati. sehingga keikhlasan akan tau kemana ia harus kembali, ke rumah sendiri, diri sendiri.  Sampaikan salam kepada pembalasan, mungkin dia tidak perlu lagi datang dan menghinggap dipikiran, Sampaikan salam kepada pemaafan, semoga hal baik yang kau dambakan akan datang. Tidak baik jika terlalu membenci, maafkan sekali lagi, termasuk diri sendiri.

Siapalah Kita?

Siapalah kita, yang ternyata tidak juga terlihat seperti siapa-sapa, begitu kecil,  dari atas sini, semua seperti satu buah titik lampu, yang setiap hari menyapu jalanan panjang di kota ini. Siapalah kita, yang terkadang begitu tenggelam, kepada rutinitas dan segala tuntutan, berpacu kepada kecepatan, dibawah sana, semua berlomba siapa yang tercepat mencapai tujuan. Mungkin, pada akhirnya kita hanyalah manusia biasa, yang tidak menjadi hebat terkadang juga tidak apa-apa. yang tidak perlu untuk terus berlari, karena apa yang memang untukmu, tidak akan terlewati.  Sudahkan kau pernah berhenti? hanya untuk sekedar menikmati apa yang sedang kau lalui? atau apakah kau terlalu terburu-buru? pada setiap petang, turun dari gedung yang sama, dan menyapu jalanan yang itu-itu saja? hingga kau tidak menyadari, langit mana yang menunggu untuk kau kagumi.  Jangan terlalu terpaku, kepada nyaring suara klakson, kabut dan asap yang menutupi indahnya langit hari ini. Berhenti, dari pacuan...

Hampa

Ruang itu begitu hampa, seakan semua hal baik telah hilang dari sana, bertaburan, berlarian, hingga kosong tidak ada lagi yang tersisa. Jalannya begitu pelan, namun nafasnya terpenggal-penggal, seakan ruang hampa itu begitu berat ia bawa. Tidak ada lagi yang tersisa. harapannya terbang meninggalkannya, dan ia hanya bisa berjalan, tertunduk perlahan-lahan menunggu kejatuhan. Kemana langit yang ia puja, ia tidak lagi mengenal siapa-siapa, tidak juga dirinya. Ruang itu begitu hampa, dan segalanya telah sirna, tidak bersisa.

Kenapa begitu susah hanya untuk merasa bahagia?

Sedih dan cemas seakan menariknya, menuju dasar dari rasa kehampaan di hatinya. "Kenapa begitu susah?" tanyanya, hanya untuk berada, merasa,  tentang segalanya dengan apa adanya. Ia begitu ingin merayakan, rasa bahagia dalam hatinya dengan sepenuhnya. Ia begitu ingin membebaskan, rasa sakit dalam hatinya dengan senyuman. "Kenapa begitu susah hanya untuk merasa bahagia?" tanyanya.

Memaafkanmu

  Dan aku akan memaafkanmu lagi . . lagi . . sekali lagi . .  disetiap hari. Tidak akan kubiarkan hitam menguasai hati. Tidak akan kubiarkan siapapun . . membuatku mati. 

Pada Waktunya

Pada waktunya, pada prosesnya, kita bisa melalui ini semua. 

Tidak Berubah

"apakah akhirnya kecemasan kamu berkurang?" "tidak." "apakah semua ini mengobati kamu?" "tidak." "kenapa?" "apa yang mau disembuhkan dengan cara menambah banyak luka padanya?"

Closure (pt.3)

"apa pengharapanmu?" "kepadanya?" "ya.." "aku harap ia hidup dengan bahagia."

Apakah kau percaya?

Apakah kau percaya? beberapa jiwa bisa terhubung tanpa harus bersuara?

Orang-orang Baik

"rasanya, hidup di masa sekarang, aku sudah tidak begitu kaget." "kaget sama?" "berita buruk, hal-hal kurang baik atau ketika berhadapan dengan orang-orang yang bersikap menyebalkan." "hmmm.." "kau tau apa yang begitu mengagetkan?" "apa?" "bertemu dengan orang baik." "lalu apa yang akan kau lakukan ketika bertemu dengan orang seperti itu?" "mendoakannya." "aku berharap, semoga orang-orang baik yang aku temukan dapat dipertemukan kembali dengan orang-orang yang dapat membuat mereka senang dan bahagia, sama seperti diri mereka." "aku berharap, mereka selalu ada di dunia. karena mungkin saja apa yang mereka hadapi juga tidak mudah, karena mungkin saja mereka juga ada kalanya merasa lelah. Namun aku harap, mereka tetap ada." "dan aku harap, mereka juga ikut merasakan, jika kehadiran mereka, begitu berharga di dunia."

Ia Menemaniku

 "jadi sebenarnya ini obrolan dengan siapa?" "tidak dengan siapa-siapa." "lalu dari mana ini semua?" "kepalaku." "maksudmu.. ada suara dari sana?" "ya." "apakah itu mengganggumu?" "tidak," "ia menemaniku."

Sementara Kita Tidak

"aku melihatmu." "dimana?" "di dalam sebuah cerita.. yang berbeda dari kita." "..." "mereka berakhir bahagia, sementara kita tidak."

Tidak Ingin dibaca

"hai.." "hai sudah lama, kemana saja?" "haha, bersembunyi." "kenapa?" "tidak ada, aku hanya sedang tidak ingin 'dibaca'." --- "tapi, bukannya kau tetap harus menuangkan 'semua'?" "ya.. aku tetap menuangkannya, namun entahlah.. kata-kata itu kini seakan sedang berubah wujud,  menjadi bentuk tidak berhuruf, namun tetap bisa kau baca, jika kau bersedia." ".." "apakah kau bersedia?"

tentang diri

Ia kehilangan dirinya sendiri, lagi. atas lelah yang ia hadapi, atas masalah yang jauh dari kata berhenti. Segala yang ia punya, seakan tidak berarti. dan ia bertanya, berulang kali, untuk apa semua ini? Mereka yang berteriak mengerti, berujung melukai. Dan ia harus kembali melindungi diri sendiri, lagi. berkali-kali, untuk tetap ada di dunia ini. 

Sepi

Gambar
  dan ia kini menepi, duduk dalam ruang ramai seorang diri, menyibukan diri dengan semua pekerjaan yang menemani. hatinya entah sudah dimana, waktunya tersita, tidak ada detik yang ia lewatkan untuk sekedar merasa, hanya sepi, katanya. 

Tawa Sumbang

Tawa itu terdengar sumbang di telinganya, candaan yang mengiris hatinya, kian mengikis rasa percayanya terhadap dunia. Tidak ada yang lucu di matanya, gelak tawa yang harus ia maafkan, membuatnya lupa akan arti dimanusiakan.  Seperti hujan. tawa sumbang itu terus menghujam, dan ia terkapar, kepada suara yang terus berputar, kepada ingatan yang sungguh ingin ia lupakan.  kepada manusia.. yang sungguh sudah lelah untuk ia maafkan. Untuk kesekian kali, ia hanya bisa berbisik kepada dunia, "tidak apa-apa jika memang begini adanya." ia hanya perlu menerima, dan belajar untuk menari diatas rasa lelahnya. Karena ia percaya, hujan akan berhenti juga pada waktunya, menyapu suara sumbang di kepalanya, dan berganti, kepada tawa bahagia yang akan tiba.  tanpa terduga, dunianya bisa jadi berbeda. 

Closure (Pt.2)

"bukankah dia memang harus pergi?" "yaa.." "bukankah kau juga tidak menginginkan dia ada disini?" ". ..bukan begitu, tapi.. entahlah aku tidak tahu" "bukankah memang sebaiknya dia bebas?" "... ya, benar ." "kenapa kau harus sedih? apakah kau menyesal?" "... tidak " "kau mungkin sedang merasa kehilangan" "..." "tidak apa-apa bersedih, tapi kau juga harus ikut merayakan." " merayakan apa? " "kebahagiannya."

Akal dan Perasaan

 "Aku bingung."  "Kenapa?" "Menurutmu bagian yang paling penting dalam menjadi manusia apa?" "Hmmm, memiliki akal dan perasaan (?)"  "Lalu, yang paling sulit dalam menjadi manusia?"  "Menyeimbangkan keduanya."  "..."

Closure.

Selamat jalan. Sudah saatnya kali ini untuk kau temukan, wajah-wajah baru yang akan menemani lembarmu, cerita-cerita baru yang menunggu, dan tempat-tempat yang menanti untuk kau tuju. Sudahi ceritamu pada yang lalu, yang selalu kau coba,  namun tidak ada juga celah yang bisa kau raba. Aku harap, pada perjalanan yang baru, kau akan menemukan bahagiamu.

Dialog Hari Baik

"ternyata semua bisa dilalui bukan?" ".. benar"  "ternyata rasa bahagia itu kembali bukan?" "hahaha iya.." "ternyata yang kau resahkan tidak semenakutkan yang kau pikirkan kan?" "..yaa, ternyata semua biasa saja." "teruslah ingat rasa ini, jika nanti bumi berputar lagi dan kau akan dihadapkan oleh sesuatu di depan sana, ingatlah, hari baik akan selalu datang, dan pada akhirnya, kau akan baik-baik saja.." "rayakan apa yang kau rasa, bersenang-senang dan berbahagialah."

Untuk Sesaat

Masalah seakan datang bertubi-tubi, dan aku hanya ingin sendiri. berdiam diri, karna aku tidak sanggup untuk berlari. Bisakah dunia baik-baik saja untuk sesaat, bisakah ada sedikit jeda, karna aku lelah menutupi luka dan harus terus berpura-pura. Rasanya, aku tidak lagi berharap untuk merasa bahagia, karena sudah tidak ada tenaga yang tersisa, untuk menyambut sedih yang mungkin sedang mengantri di depan sana. Bisakah dunia baik-baik saja untuk sesaat, karena aku, sangat ingin beristirahat.  Hai manusia kuat, bukankah seperti itu yang sedang kau rasakan untuk sesaat? Dunia yang harus terus kamu lawan, bukankah pada akhirnya terasa begitu melelahkan? Semua cerita yang selama ini kau pikul sendirian, beserta segala kenangan yang kau simpan dalam-dalam, bukankah sedikit-banyak kini begitu terasa semakin memberatkan? Hai manusia kuat, sudah begitu lama kau bertahan, sudah begitu jauh kau berusaha untuk melupakan, namun, rasa sesak bukankah masih kau rasakan? Hai, sudah.. berhentilah un...

Dialog Waktu

"apa hal yang paling kamu takuti di dunia ini?" "waktu." "waktu?" "ya." "kenapa?" "karena .. waktu tidak terduga." "karena.. kamu bisa saja kehilangan sesuatu atau seseorang yang kamu cintai tanpa aba-aba." ".." "lalu.. apa hal yang paling kamu suka di dunia ini?" "waktu." "waktu??" "ya." "kenapa?" "karena waktu itu tidak terduga." "kamu bisa merasakan moment indah yang tidak pernah kau kira akan ada."

Tulisan yang Tidak Pernah Kita Tulis

Terkadang, aku juga tidak mengerti, tentang kemana arah yang aku jalani.  Terkadang, aku juga belum dapat memahami, tentang untuk apa semua ini harus dilalui. Rasanya, begitu banyak tanya yang menuntut jawaban secepat dini, namun, aku juga belum melakukan sesuatu, untuk siap mendengar apapun itu. Terkadang, aku salah dalam mengambil keputusan, hingga tidak jarang aku hilang arah atas kehidupan. Terkadang, aku hanya ingin menangis diam-diam, mengeluh tentang betapa beratnya semua tuntutan harus aku emban sendirian. Terkadang, aku ingin pergi, hanya untuk mengetahui, adakah yang mengharapkan aku kembali? Terkadang, aku menunggu, kapan kehidupan akan berbaik hati, membalas semua yang telah aku lalui, membawa cerita bahagia yang selama ini aku nanti.. Namun, bertahun waktu itu tidak kunjung tiba, dan aku terjebak di lingkaran yang sama, berputar tiada henti,  dan kembali pada titik yang sama berulang kali. Mungkin, terkadang aku hanya terjebak kepada kecemasan yang menghantui, ter...

Wanita Paruh Baya

Wanita paruh baya itu bercerita, tentang hidup yang benar-benar tidak terduga. Awalnya baik-baik saja, namun dengan cepat semua bisa berubah tanpa aba-aba. Ditengah sakit yang ia rasa, ceria selalu ada di wajahnya, tawa selalu ada disetiap dia bersuara. tidak ada yang bisa mengetahui seberapa menderitanya ia, karna siapapun yang mendengarnya, akan percaya jika ia baik-baik saja.  Tidakpun ia pernah menyalahkan keadaan, kecelakaan yang terjadi tanpa peringatan, ia terima apapun bentuk ujian Tuhan. Ditengah keputus-asaan yang tak jarang mengetuk kehidupan, tak pernah ia biarkan masuk untuk mengambil alih harapan yang ia simpan. ditengah kesulitan yang ia rasakan, ia percaya akan tetap dapat melanjutkan kehidupan yang diberikan. Wanita paruh baya, yang dalam sujud ia mengetahui bahwa ia bukanlah siapa-siapa, ujian dapat terjadi kepada siapa saja, termasuk dirinya juga. Tidak ada marah, tidak ada kesal, wajahnya begitu cerah menyinari kehidupan.  Kepada wanita paruh baya itu, teri...

Rumah yang Berbeda

"Kita buat rumah yang kokoh ya!" kata seorang anak kecil kepada temannya sambil membawa dua buah ember plastik penuh berisi harapan ditangannya. "Disini!" katanya sambil menghentakan kaki, menunjuk titik dimana lokasi rumahnya harus berdiri. Matanya sungguh berbinar seindah pemandangan lautan yang ada di hadapan, senyumnya mengembang seakan inilah waktu yang ia dambakan akhirnya telah datang.  Diawali dengan anggukan setuju, tangan-tangan mungil itu mulai menggali dan menumpuk gundukan harapan satu persatu.  "Kau mau rumah berbentuk seperti apa?" tanya temannya sewaktu-waktu. "Hmm.. jajar genjang?"  "Jajar genjang?" "iyaa! bisa engga kita buat rumah dengan bentuk yang berbeda? tidak seperti biasanya?"  "hmm.. kenapa?" "entahlah, tidak ada alasan, tanpa karena. Aku.. hanya ingin rumah kita berbeda." Senyuman penuh keyakinan kedua anak kecil itu seakan disambut oleh angkasa dengan senang. Langit yang cerah se...

Janji

"Tidak mudah,  sungguh semua memang dirasa tidak mudah." "apa?" "yaa kehidupan yang sedang dijalani." "hmmm, benar." "Tapi.. yaa bagus, setidaknya kita masih ada, masih bisa menutup mata disetiap malam, dan masih bisa menghirup udara disetiap esoknya." "Walau.. mungkin beberapa dari kita sedang meredup, sedang tidak bisa mengungkapkan kesedihan yang kita rasakan, atau kegelisahan yang tidak bisa kita ceritakan, karena badai ini seperti perubahan yang terlalu kencang." "Tapi..semua pasti berlalu.. Akan datang waktu dimana sedih mu akan habis, gelisahmu akan menjadi biasa saja, dan badai ini akhirnya berhenti juga." "Jadi,  teruslah berjalan, membiasakan diri kepada ketidak nyamanan, menghibur diri disaat ketidakpastian datang, dan selalu menjaga diri disetiap fase kehidupan" " Apapun yang sedang kamu hadapi, apapun yang sedang kamu lalui, seberapa sulitnya kamu melalui hari demi hari, seberapa melelahka...

Waktu

Terkadang menjadi manusia, Sebanyak apapun rencana yang telah terancang, Ia tidak akan pernah tahu, Apakah ia tetap dapat memiliki waktu, Untuk mewujudkan segala asanya satu persatu. Apa yang akan terbawa jika waktunya telah terhenti? Akankah harapannya ikut terbang tinggi, Menuju langit dan tidak pernah kembali? Terkadang menjadi manusia, Sebanyak apapun yang mencintai atau membenci, Ia tidak akan pernah mampu mengerti, Membedakan setiap ciri, Untuk percaya tuluskah mereka selama ini? Apa yang akan terjadi, Jika ternyata merekalah yang merenggut waktu yang ia miliki? Akankah mereka tersenyum, Dan bahagia menjalani hari? Terkadang menjadi manusia, Ia hanya ingin memiliki waktu yang banyak di dunia. Bahagia terhadap pilihannya, Dan tersenyum, walau penuh luka, Ia akan tetap berkata tidak apa-apa. Terkadang menjadi manusia, Ia hanya ingin memiliki waktu di dunia.

Bala Tentara

Gambar
Bala tentara itu akhirnya memilih mundur, menyelamatkan diri, sebelum segalanya luluh lantah dan hancur. Mereka berlari, mencari persembunyian diri, untuk menjaga mimpi, sebelum segala harapannya terkubur. Mencari tempat aman, untuk kembali mengumpulkan kekuatan. Bersama, dengan segala harapan yang tergenggam, mereka percaya, akan ada saatnya, kemenangan ada dalam genggaman. 

Aku Sudah Tidak Ingin Lagi

Aku sudah tidak ingin lagi, mengisi hari dengan ekspektasi yang terlalu tinggi. Aku sudah tidak ingin lagi, berharap kepada hal yang diluar kendali. Aku sudah tidak ingin lagi, menahan sesuatu yang memang seharusnya pergi. Aku sudah tidak ingin lagi, memaksa sesuatu yang bukan untuk aku miliki, Aku sudah tidak ingin lagi, mengisi hari dengan ketakutan yang menghantui. Aku sudah tidak ingin lagi, menghabiskan energi terhadap kecemasan yang tidak berarti. Aku sudah tidak ingin lagi, berlomba dengan kehidupan orang lain yang tidak kukenali. Aku sudah tidak ingin lagi, memenuhi ekspektasi yang bukan seharusnya untuk aku penuhi.  Aku sudah tidak ingin lagi, terburu-buru menjadi sempurna untuk memiliki segala yang mereka ingini. Aku sudah tidak ingin lagi, Aku sudah tidak ingin lagi, Aku sudah tidak ingin lagi, Aku ingin.. hidup. dan tidak takut, menjalani jalan yang aku percayai. Aku ingin..  hidup. dengan caraku sendiri, menyusun kehidupan yang mungkin orang lain tidak mengerti....

Angka Satu

Hai, akhirnya kita bertemu lagi. di angka 1 di tahun yang baru.  Bagaimana perjalanan di tahun yang lalu? Beberapa baik, dan beberapa belum tentu, iyakan? semua terasa begitu cepat berlalu.  Sakit yang kamu rasakan di tahun yang lalu, apakah masih terasa disaat kamu memasuki angka satu ? Kecewa yang kamu bawa, apakah masih susah untuk ditutupi dengan tawa? Di angka satu dari tiga ratusan yang menunggu, kira-kira mau diisi apa hari-harimu? Bukankah harapan kita sama, tahun ini ingin lebih baik dari tahun sebelumnya. Namun, berharap menjadi baik saja terkadang tidak cukup, harus ada pola yang kita ubah dari keseharian yang biasa kita lakukan. Termasuk menyimpan segala sakit sendirian, lepaskan perlahan, ikhlaskan pelan-pelan. Tidak akan ada yang berubah dari yang telah berlalu, akan banyak hal baru, jika kita akhirnya memilih berlalu.  Di angka satu, rancanglah perubahan baru. Tidak perlu terburu, mulailah nanti di angka keberapa yang kamu mau. Semoga dengan begitu, impian ...

Ketakutan dan Harapan

Beberapa manusia terkadang memiliki ketakutan, yang hanya bisa ia simpan sendirian, tatkala ketakutan suka datang, mengetuk benteng pertahanan dikala malam, memenuhi langit-langit ruang, menutupi segala sisa harapan yang ia simpan. Susah payah ia bertahan, susah payah ia menjaga harapan. Pun ia juga tidak mengerti tentang kehidupan, jalan lurus yang ia pilih, tak jarang dibelokan. Lagi-lagi, harapan. Hanya harapan yang mampu membuat ia bertahan. Walaupun semua kini tampak seperti angan-angan, kehidupan yang ia dambakan, seakan masih jauh dari pandangan. Lagi-lagi, bertahan, adalah keputusan yang masuk akal. Walau sakit yang dirasa tidak tertahankan, walau pusing yang dirasa semakin menyebalkan, teruslah bertahan dan berjuang untuk 'kesembuhan'. Sebesar apapun ketakutan yang kita simpan, tetap jaga harapan, sekecil apapun itu.. untuk kita wujudkan.  Walau kita sedang tidak mengerti jalan apa yang tengah kita lalui, tetap simpan harapan itu dalam hati. Hingga nanti, semua ini dap...