Si Pengelana
Hidup memang tidak terduga,
entah kemana kita jauh berkelana,
atau sekedar berjalan sebentar mengeliling kota,
dengan kopi tanpa gula,
hidup bisa membawa kita untuk mendengar sebuah cerita.
Cerita tentang si pengelana,
mungkin begitu kita bisa menyebutnya.
Tidak tahu pasti, bagaimana kehidupan membentuknya.
perjalanan yang tidak terduga,
perpindahan yang dulu tidak ada habisnya,
membentuknya,
menjadi manusia,
yang tidak ada habisnya memahami dunia dan seisinya.
Kepalanya selalu bertanya,
namun hatinya selalu menjaga,
banyak rasa yang ia beri,
pada benda yang mungkin tidak orang lain pahami,
tidak pernah ia tinggalkan sendiri,
baginya benda mati juga butuh dihargai dan ditemani.
Tidak tahu pasti, seberapa pahit jalan yang ditempuhnya,
hingga rumah kedua adalah pilihannya untuk ada di dunia.
Tawa diujung kalimatnya,
terdengar seperti sebuah ketegaran yang selalu ia bawa kemana dirinya berada.
seperti senjata,
seperti pedang,
matanya,
tajam dan ramah disaat bersamaan.
Si Pengelana, dan akan terus menjadi pengelana.
sampai nantinya ia bisa duduk sambil tertawa,
lepas, tidak adalagi pikiran yang mengganggunya,
tidak lagi risau tentang apa yang harus ia jaga dan ia bawa,
beristirahat di rumah kotaknya,
dan kembali berbincang tentang hal-hal yang ia suka di dunia.
Tidak tahu pasti, entah apa yang akan ia hadapi selanjutnya,
dengan matanya, setidak bersahabat apapun dunia,
kita tahu dia akan baik-baik saja.
Semoga, apapun yang ia jalani,
ia tahu kemana harus kembali,
ke harapan kecil,
yang orang lain mungkin tidak memiliki.
Komentar
Posting Komentar