Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2021

Ia Hanya Ingin Hidup, Katanya

Terkadang, bukan badai besar diluar sana yang harus ia takhlukan, melainkan, gemuruh petir didalam kepala, yang harus ia kendalikan, berlayar mengarungi pikiran sendiri, menerjang kuat ombak kenyataan, yang bertentangan dengan keyakinan. tiap malam mencoba menyelamatkan diri, dari pertarungan di dalam kepala ini. Terkadang, bukan kobaran api diluar sana yang harus ia cemaskan, melainkan, ledakan amarah dalam hati yang harus ia padamkan. mencari pembenaran, namun tidak ada yang bisa disalahkan. mencari perlindungan, namun tidak ada yang bisa menenangkan. tiap hari menyirami hati, memadamkan kobaran api diri sendiri.  Tidak ada pembeda diantara tangis atau tawa, semua terlihat lucu katanya. Dunia yang tidak ia kenali, menyapa dan melahapnya tanpa peduli. Kenyataan yang tidak ingin ia ketahui, menyuguhkan fakta yang tidak bisa ia hindari. "Hadapi!" teriak langit disuatu hari. Ia yang selalu berlari,  tidak memiliki pilihan, selain menjadi berani. sekali ini, untuk saat ini, bara...

Beranjak Dewasa

Mungkin, bagi beberapa manusia.. bukan menjadi tua, yang ia takutkan saat beranjak dewasa. Namun, yang ia takutkan adalah tentang.. menjadi manusia yang harus mampu untuk menahan semua, menahan semua kecewa yang dirasa, menahan tangis dan mengubahnya menjadi tawa, menahan rasa bahagia agar tidak habis tak bersisa. intinya.. menahan semua yang dirasa dibalik sebuah kata  "tidak apa-apa" Dipaksa untuk bisa, dituntut untuk memiliki segalanya, di usia muda, harus sempurna, kata mereka. Tidakkah semua seperti jebakan, jika begini rasanya? Menjadi dewasa, mungkin adalah perjalanan dan pembelajaran setiap manusia, jika saat ini belum bisa untuk memahami semua, untuk memiliki segalanya, untuk menjadi apa kata mereka, mungkin..  tidak apa-apa juga.. Karena beberapa manusia, jika terlalu dituntut dan dipaksa, tak jarang mereka akan hilang pada akhirnya, tersesat dan tenggelam, sembari bertanya, milik siapa hidupnya sebenarnya? suara siapa yang harus ia dengar seutuhnya? hati mana yang...

"Sampai nanti, kau akan bahagia kembali."

Mata yang panas, hati yang kering, tangis yang pecah, pipi yang basah, mulut yang bisu, suara yang tak terdengar, pikiran yang tak jelas. Kecewa yang membara, hati yang hangus, tubuh yang lemah, tidak berdaya. Bahagia yang jauh, matahari bersembunyi, gemuruh jatuh, hujan tiba, matahari tak tenggelam, kaki langit menghitam,  gelap tanpa malam. Harap, "Harap bersabar" katanya, Bertahan, "Bertahan dulu!" teriaknya, "Sampai kapan?" teriak seorang manusia, suara yang tersisa, bertanya kepada langit dan semestanya. "Sampai nanti, kau akan bahagia kembali."