Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2022

Tertawa

Tiap kepala, pastinya hanya ingin tertawa, tapi tidak semua bisa, karena apa yang ada di dalam terkadang begitu menyiksa. Maka, jadilah apa adanya, jadilah apa yang kita bisa, Tapi terkadang semua tidak perlu merasa, cukup kita saja, yang diam-diam bertahan untuk terus dewasa. Karena apa yang ada di kepala kita, bukanlah tanggung jawab siapa-siapa, untuk membuatnya reda.   Tetap diri sendiri, yang punya kendali.   Berhenti, jika selama ini terlalu menuntut untuk dimengerti, Syukuri, setidaknya, ada beberapa yang tidak menambah deras kita di pipi.

Merayakan Sepi

Dan ia kembali, merayakan sepinya seorang diri, mengatur nafas sekali lagi, memikirkan tentang kemana langkahnya setelah ini, Dan ia kembali, memeluk tubuh kecilnya seorang diri, menahan air matanya agar tidak jatuh lagi pagi ini, Rasanya, begitu banyak yang ia khawatirkan, namun sedikit sekali yang mampu mendengarkan. Dalam kepalanya bertanya, "Haruskah ia yang terus mengandalkan diri sendiri pada akhirnya?" dan tangan-tangan kecilnya dengan cepat mendekap, berkali-kali menyelamatkan sebelum ia kembali terisak. Dalam keheningan ia menemukan jawaban diri, dan ia kembali, merayakan sepinya seorang diri. 

Ada menjadi Tidak Ada

Terkadang, sesuatu menjadi berbeda karena, apa yang biasa "Ada" telah berubah menjadi "tidak ada", dan kita hanya bisa bertanya tanpa suara perihal "kenapa?" Dan pikiran semakin bersemangat memainkan perannya, dan hati semakin kesulitan untuk mencerna apapun hasilnya. Tidak bisakah kita untuk terus menghargai keberadaan, sebelum nantinya kembali kehilangan?

Menjaga

"kau tau?" "apa?" "terkadang manusia bisa dengan begitu mudah melupa.." "melupa? tentang?" "apa saja, terlebih jika mereka merasa bahwa apa yang mereka punya sudah pastilah selamanya.." ".." "padahal tentang selamanya, tergantung bagaimana mereka menjaga." "tergantung bagaimana mereka menjaga?" "ya." "maksudmu?" "kau tidak mungkin berharap bunga dapat tumbuh mekar dan menghiasi rumahmu jika tidak kau rawat dengan baik bukan?" "..."

Lilitan Kita

Malam ini aku sedang membuat secangkir teh panas, Hatiku rasanya sedang campur aduk, entah karena apa, Rutinitas yang padat dan minimnya istirahat, mungkin satu-satunya yang bisa menjadi alasan dari ketidak jelasan yang aku rasakan. Tapi sayangnya, kesabaran ku semakin diuji malam ini, Ketika mau membuat teh untuk menenangkan diri, Kantong teh itu tidak mau bekerja sama untuk memudahkan urusanku menyeduhnya, Dia terlilit, dan aku sedikit tidak menyukai, Rintangan-rintangan kecil yang dapat memancing emosi diri. Dan akhirnya aku membiarkan ia terlilit sendiri. Aku memilih untuk tetap memasukannya kesegelas cangkir panas walaupun bentuknya menjadi aneh dan hatiku semakin ganjal melihatnya.   Namun, Ketika aku perhatikan kembali kantong teh yang terlilit itu, Tidak ada yang berubah, Dia tetap menjadi kantong teh yang dengan baik menjalankan tugasnya, Rasa teh itu tetap sama, Hanya penampilannya saja yang berbeda.   Mungkin, kantong teh yang terlilit itu sama seperti manusia, Sa...