Part 2. (Ia Bukan) Manusia Buta Rasa
Selama ini,
ada seorang manusia yang tinggal dalam menara tinggi,
rerumputan yang jauh dari kaki,
membuat ia sadar sudah terlalu lama ia mengurung diri diatas sini.
Rasa bersalah tak jarang datang menghantui,
pertanyaan yang tak pernah ada jawaban, ia fikirkan sendiri sejauh ini.
Hingga datang suatu pagi,
saat sinar mentari menyapa dari ufuk yang jauh sekali,
tersenyum sembari menyinari sudut gelap yang tak pernah ia sadari.
"hidup tidak sebatas tentang salah dan benar bukan?"
"hidup tidak harus diisi dengan berbagai tanya yang memusingkan kan?"
"kalau kamu salah, hidup tidak berhenti sampai disini kan?"
tanyanya disuatu pagi.
Tersadar ia atas kegelisahan yang menyita diri,
ia lihat cahaya itu sekali lagi
"ayo keluarlah dan nikmati hari"
ajaknya sambil berlari.
Bertahun berdiam diri,
mencari pertolongan karena takut akan sepi,
kini manusia itu keluar dari menara imajinasi yang ia pasang dalam pemikirannya sendiri,
jika dahulu ia menunggu siapa yang mampu,
kali ini ia tidak akan mencari,
karena ia sudah tidak terjebak dalam menara itu lagi.
Kini ia ikut berlari,
diatas rerumputan yang dulu tak bisa ia nikmati,
sambil mengejar cahaya yang membuat ia merasa hidup kembali,
tak ada lagi perasaan yang menjerat diri,
Dan kini ia menyadari,
Ia bukanlah manusia yang dulu lagi,
si buta rasa, bukanlah sebutannya kini.
dahulu ia hanya tidak tahu apa itu bahagia,
mereka yang memaksa, bukanlah salahnya untuk berkata tidak bisa.
Dan ia semakin berlari,
dengan berbekal tekad dan semangat baru yang ia bawa kesana-kemari,
ia bersiap untuk merasakan kehidupan yang sudah lama ia lewati,
ia tidak peduli terhadap cela yang terkadang mengejar menghantui,
tidak akan pernah bisa menghentikan langkah kakinya lagi,
Karna ia sudah berbeda,
ia bukan manusia si buta rasa.
Ia manusia yang kini mengenal apa itu bahagia.
Komentar
Posting Komentar