Postingan

Menampilkan postingan dari 2023

Terbakar

 “Aphrodite..  bolehkah aku mengetahui, kenapa hatiku rasanya terbakar, oleh sesuatu yang aku tahu tidak bisa ku tawar?” tanya seorang manusia kepada dewi termasyur di Semesta, tidak mendengar jawaban, manusia itu kembali bertanya dengan isakan, “Aphrodite, bisakah kau berikan aku penawar? sungguh, racun benci kepada diri sendiri ini begitu cepat menyebar!” Aphrodite menolehkan wajahnya, “Penawar?” “ya.. bisakah kau berikan aku sedikit penawar?” isakan manusia itu kini semakin menggelegar.   Aphrodite menjulurkan tangannya, mengucapkan beberapa kata,  dan seekor ular kecil tiba-tiba muncul disana, melilit jemari-jemarinya yang lentik,dan bermain di atas emas-emas yang bertengger cantik. “Kau tahu.. seperti bisa ular, jika kita tergigit,  penawarnya ada pada dirinya sendiri..”  “maksudnya?” tanya manusia itu tidak mengerti.. “jika jiwamu terbakar, penawarnya sudahlah ada di dalam sana, kau bisa memutuskan, apakah akan kau gunakan atau tinggalkan.” “Aphrodite...

Aphrodite dan Cupid

"Jelas manusia-manusia itu mengerti, tentang sebuah awal dan sebuah akhir, dari cerita-cerita yang tidak pernah terpikir." "Tapi kau tahu apa yang terjadi?" tanya Aphrodite kepada para Cupid, di tengah hamparan awan, mereka berkumpul, mendengarkan tentang kisah bertemakan perjuangan dan perpisahan, tentang menemukan dan merelakan. Dan Aphrodite melanjutkan, "Mereka mencobanya,  meskipun mereka tahu betapa perpisahan akan segera datang menyapa, tapi mereka mencobanya. Mereka bertaruh kepada ketidak mungkinan yang nyata, dan jelas, menusia-manusia itu mengerti, dan sangat memahami cerita-cerita itu tidak akan terjadi." "Karena bagi mereka, ini bukanlah tentang kisah yang harus dimenangkan, tidakpun harus diperjuangkan, ini semua adalah tentang merasakan, bahwa ada, selalu ada cerita, pada setiap pertemuan mata yang menyimpan banyak kerinduan, dan pada setiap cerita-cerita yang hanya bisa mereka simpan sendirian." "Lalu apa yang akan kau lakuka...

Kambing

 Seekor kambing yang tertawa, bersuara namun tidak tahu apa-apa, nyaring namun merasa paling merdu sedunia. Oh Kambing, pelanlah kau berbicara, bukalah mata, kawananmu adalah serigala. Oh Kambing, berhentilah mengadu-adu, mengada-ada, karena kami, memerhatikanmu juga.

Pergi

“Pergi” selalu datang tanpa aba-aba, tapi kita malah menyambutnya karena kita tahu waktunya akan tiba. Barang sebentar lagi, beberapa hal akan berbeda, dan kita menahannya, meyakinkan diri ini yang terbaik apa adanya.. “Pergi” selalu datang bersama rasa tidak berdaya, tapi kita malah merayakannya karena kita tahu semua akan baik-baik saja pada akhirnya. Barang sebentar lagi, beberapa hal tidak lagi sama, dan kita menahannya, meyakinkan diri ini yang terbaik untuk semuanya..

Panah

Gambar
dan ia mematahkan semua panah yang menancap di tubuhnya, sudahlah ia terlalu lelah untuk menerima semuanya, bukan seperti ini kehidupan yang ingin ia perjuangkan dalam hatinya. dan ia mematahkan hatinya, sudahlah ia terlalu lelah untuk merasakan semuanya, bukan seperti ini kisah yang ingin ia miliki dalam hidupnya.

Menyimpan Semuanya

Dan ia akan menyimpan semuanya, mengingatnya dalam keterbatasan memori yang ia punya, bahwa akan selalu ada, sesuatu yang hidup di dalam dirinya. Dan ia akan mensyukuri semuanya, melukisnya dalam keterbatasan garis tangan yang ia punya, bahwa tidak akan pernah ada, sesuatu yang terlewat di ingatannya. Ia tahu, inilah yang terbaik untuk semua, dan tidak perlu ada yang harus melompat menuju keterbatasan yang mereka punya. Disini saja, bersama-sama dalam diam mata yang bersuara, sampai nanti.. kita merelakan jalan yang tidak pernah ada.. Dan ia akan menyimpan semuanya, mengingat dan melukisnya dengan senyum yang ia punya. 

Kehebatan Mereka

"Kau tahu kehebatan kita?" "Apa?" "Kesendirian."

Bersamamu Aku Tidak Dapat Bersinar

  “aku tahu kau tidak akan sanggup melihatku meredup..” “… ya, kau benar, aku tidak akan bisa” “tapi.. bersamamu aku tidak akan dapat bersinar..” “….” 

Big Bang

 “kau tahu beberapa hal harus mati agar beberapa hal dapat hidup?”  “apa maksudmu?” “seperti teori big bang, kau tahu?” “ya aku tahu itu, tapi apa maksudnya?” “suatu hal harus berakhir agar hal lainnya dapat dimulai,  dan sebuah akhir adalah pilihan yang aku miliki,  agar kau dapat terus hidup, begitu juga dengan orang-orang yang pernah ada di hidupku, mereka harus hidup” “…” “kenapa?” “jadi maksudmu kau akan meledakan diri agar kehidupan yang sebenarnya dapat dimulai?” “ya.” 

Kemana

dan ia menatap foto-foto itu dengan kosong, wajah-wajah ceria yang kini tampak berteriak tolong, hatinya merongrong hampa, seperti ia bukanlah wajah yang ada di sana. kenapa, ia tidak bisa lagi merasakan apa-apa, kemana, hatinya sebenarnya?

Radar

Pada radarnya ia telah tertaut, bertanya tentang maksud, terhadap sinyal-sinyalnya yang absurd. Perlahan mendekat, "ada apa pada tatapannya yang begitu melekat?" Ah terlambat! tanpa sadar ia telah mendarat, kepada sinyal bahaya yang ternyata menjerat, melumat, memikat, dan ia sudahlah terpeluk erat. dan perlahan ia memilih menetap, dalam tatapannya yang begitu melekat.

……

………………. ………………. ………………. ………………. ………………. ………………. ………………. ………………. ………………. ………………. ………………. ……………….

Nahkoda Kapal

kapal kecil itu barulah berlayar, dan ombak kala itu begitulah tenang, ia berjalan perlahan, ditemani semburat cahaya yang hendak tenggelam, siapapun yang berada di dalam kapal kecil itu pastilah senang,  bercengkrama, tertawa, hingga waktu berlalu begitu saja.  kapal kecil itu barulah berlayar, dan kali ini ombak menghantamnya begitu keras, ia terombang ambing, nyaris karam. siapapun yang berada di dalam kapal kecil itu pastilah tidak tenang,  berebut megang kendali, agar tiada satupun yang tersakiti.. kapal kecil itu barulah berlayar, namun pengemudi di balik layar,  begitu dapat dihandalkan.. siapapun yang berada di dalamnya, pasti lah senang, karena mereka terselamatkan sampai tujuan..

Pupuk

  “hei! aku akan menjadi pupukmu disini!”   “pupuk??” “ya, kau tidak tahu bahwa makhluk biologis adalah sebaik baiknya pupuk untuk tanaman yang layu?”  “ya, aku mengerti, tapi kenapa harus kamu?!” “aku harus melihatmu hidup..”  “tapi aku tidak bisa melihatmu mati!” “aku tidak akan mati.. malah aku hidup dalam dirimu sesudah ini” “….” “aku tidak akan mati,  aku akan menjadi apa saja, dalam bentuk-bentuk yang tidak kau ketahui, di sini, di kehidupan ini.. dan di kehidupan nanti”

Perkusi

  hatinya seperti perkusi, dan begitu banyak kurcaci-kurcaci yang memainkannya malam ini.. tidak bernada, tapi semua suara dimainkan berirama, mereka meloncat-loncat seperti bergembira, merayakan sesuatu yang mereka tidak mengerti apa artinya, hatinya seperti perkusi, dan kurcaci-kurcaci itu tampak riang sekali, kali ini menghentak-hentakan kaki, bersorak seakan ini adalah perayaan yang mereka nanti.. hatinya seperti perkusi, berdebar kencang sekali.

Putri Tidur dan Kuda Terbang

Malam itu, sebuah menara terbakar, hebat,  dan seorang putri terjebak,  sakit menahan isak, asap menggumpal, gelap memenuhi awan, dan semua orang berhamburan,  “ayo cepatt! cepatt!” teriak seekor kuda putih terbang menyelinap,  sayapnya ia kepakan, kesana kesini mencari seseorang yang ingin ia selamatkan..  dan putri itu telah tertidur di sudut ruangan,  dengan satu kepakan, kuda itu berhasil membawanya ke awan. berpandu cahaya rembulan, mereka terbang menyitas kegelapan, ntah kemana semua kerumunan, tidak ada siapa-siapa, kecuali mereka, sang putri dan kuda terbang. malam itu, sebuah menara terbakar, hebat, dan seorang putri tlah selamat ..

Eyang (2)

Eyang,  Saya janji akan selalu jatuh cinta kepada setiap kesederhanaan, Tidak gelap mata terhadap semua kegemilangan,  Seperti pesan-pesan yang Eyang titipkan. Karna betul Eyang.. Lebih tenang rasanya hidup seperti itu,  Lebih ringan rasanya karna jauh dari kekhawatiran, Terimakasih Eyang,  Semoga kesederhanaanmu selalu mengalir dalam setiap kebiasaan-kebiasaanku 🤍

Eyang

 Eyang, badanmu begitu kaku, Tapi aku masih ingat betapa hangatnya tiap pelukmu, Eyang, aku beruntung terlahir sebagai cucumu, Aku masih ingat panggilan khusus yang kau beri untukku, Eyang, kau tampak cantik di terakhir kita bertemu, Semoga hangat dirimu dalam balutan kain putih itu, Eyang, aku janji akan selalu mengingat pesan-pesanmu, Terimakasih atas segala doa dan restu yang kau pupuk dalam diriku, Eyang, aku mencintaimu

Tuhan

Tuhan, begitu banyak manusia yang ia cintai ada di bumi, Tidak mampu hatinya jika harus menampung sedih untuk menghadapi hal seperti ini, Maka dari itu, Bolehkah aku pinta untuk jaga mereka semua selagi di dunia? Berikan kehidupan yang bahagia untuk mereka jalani, Berikan tenang dan cukup di setiap jalan yang mereka tapaki, Jadi, jika aku harus kembali menghadapi hal seperti ini, Hatiku dapat tersenyum, Mengetahui mereka telah hidup dengan baik sebaik-baiknya dengan penuh suka cita, Sisakan sedihku sedikit saja, Karena bahagia mereka adalah bahagiaku juga 

Pewangi Terakhir

Kapur barus bertabur kopi, Adalah pewangi kita terakhir di bumi.

Ia tidak akan bertanya

Ia tidak akan bertanya tentang "kenapa" kepada Tuhan, Ia percaya semua sudahlah digariskan, Ia hanya meminta, semoga hatinya dikuatkan, Karna Tuhanlah yang paling tahu, Seberapa takutnya ia jika "kehilangan" bertamu. Tuhan, ia sungguh ingin sekali tersedu, Menuangkan semua sedihnya satu persatu, Tapi ia tidak akan bertanya tentang "kenapa" kepadaMu, Mungkin, inilah kekuatan yang Engkau titipkan padaku..

Fana

Dan kita hidup di dunia, Dimana akhir adalah awal dari kehidupan selanjutnya, Dimana sementara berubah menjadi kekal ketika waktunya telah tiba, Dan semua sungguh fana, Sudahkah kita hidup dengan sebaik-baiknya?  Apa yang akan kau bawa ke langkah selanjutnya?

Pecah

 Ia pun menunggu, Kapan pecahnya akan berderu,  Atau sudahkah ia seperti batu, Terbiasa tercabik-cabik hingga pilu bukanlah rasa asing yang mengganggu

Terkenang Abadi

Beberapa manusia, Akan selamanya terkenang dalam jiwa, Abadi melampaui batas-batas semesta,

Tidak Ada

Dan aku menyaksikan betul, Tidak ada yang kita bawa pada akhirnya, Selain amal dan kenangan di mata mereka, Bersalam-salam, satu persatu, Mengenang kapan terakhir bertemu, Dan satupun kita tidak ada yang tahu, Kapan malaikat malaikat akan giliran bertamu, Dan aku menyaksikan betul, Tidak ada yang kita bawa pada akhirnya, Selain siapa dan apa yang kita perbuat di dunia.

Merpati Terbaik

Dan ia melepaskan merpati terbaiknya lagi kali ini, merpati yang telah lama mengabdi pada bumi, yang tlah menyaksikan dan melewati seluruh suka cita yang diberi,  Ia bisikkan maaf pada langit, karena anak kecil itu sedikit terlambat untuk berpamit, Ia lepaskan merpati terbaiknya tahun ini, lagi, untuk kedua kali, ia tahu merpati itu telah bertemu pasangannya yang tlah menanti,  dan ia harus tersenyum melihat keabadiannya yang mulai terpatri, "Terbanglah bebas wahai merpati!!" bisik anak kecil itu kepada langit sekali lagi, maaf jika aku tidak sempat berada di sisi ketika kau mau pergi, tapi doaku akan selalu menjagamu dalam hati, "Berbahagialah dan menjadi mudalah lagi!!" teriak anak kecil itu sedikit memaksa kali ini, Dan ia melepaskan merpati terbaiknya malam ini, Dengan senyum dan keikhlasan agar ia bisa terbang tinggi..

Melayang Terbang

Hatinya telah melayang ke arah kemustahilan, Dan ia sudahlah sampai ke atas awan, Terbang, berdansa, menari-nari dengan angan dalam pikiran, Ia lupa, kakinya haruslah tetap menapak pada daratan, Nyaris ia hilang seluruh kewarasan.  "Tapi bagaimana?" tanyanya dalam hati, Dan bimbang seraya menyapa seakan teman sejati, Ia turut menemani, membumbung tinggi, sebelum kembali menghempaskannya ke bumi.  Namun, hatinya sudah terlanjur melayang tinggi,  Dan mungkin.. Untuk sebentar, ia ingin menikmati awan ini.

Landak Kecil (2)

dan landak kecil itu meringkukkan badannya, menegangkan durinya seakan ia bersiap menerbangkannya kepada siapa saja, karena ia tahu, semua hanyalah perkara waktu, semua akan tersakiti olehnya satu persatu, tapi demi tuhan, ia menahan. ia tidak ingin melukai setiap pemilik hati, karena ia tahu, bagaimana rasanya ingin hidup setengah mati. dan landak kecil itu meringkukkan badannya, bersembunyi di sana untuk menyelamatkan semua, karena ia tahu, dirinya hanyalah pembawa petaka yang lucu, dan semua akan tersakiti olehnya satu persatu.

Khayal

Mungkin seratus atau seribu tahun yang lalu, dua jiwa manusia itu pernah bertemu, ntah menjadi raja dan permaisuri, atau menjadi rakyat biasa yang hidup bersama, adalah tebak-tebakannya yang buntu. Begitu banyak tanda tanya yang berakhir dengan tanda seru, mereka tahu tidak akan bisa melewati batas-batas itu, karena takdir kini berbeda dengan kehidupan yang lalu. Dan tidak apa-apa juga jika seperti itu, pada akhirnya dua jiwa itu tetap bertemu,  Setelah seratus atau seribu tahun yang lalu,  dengan wujud pribadi yang baru,  mata mereka tetap mengenali,  tatapan mana yang akhirnya menyapa lagi. 

Penuh Kosong

dan beberapa manusia, begitu penuh dengan "kosong" yang mereka bawa kemana-mana, dengan bentuk yang berbeda, kita pikir semua orang baik-baik saja, jarang yang mengerti, tentang kosong yang tidak pernah terasa ringan di hati, tidak pun ada yang bertanya, barang sesekali, dan "kosong" semakin mengisi,  berani menggaris bawahi bahwa, perihal ini tidaklah terlalu berarti, "masih banyak yang harus aku urusi!" kata kita sambil berjalan lagi. dan beberapa manusia, memiliki "kosong" yang kini menjadi separuh diri. sedikit berharap kian waktu semoga ada yang bisa mengisi, hingga hidup bisa terasa "penuh" kembali.

Berjumpa dengan Pohon Tua

Anak kecil itu masih ingat betul, bagaimana hidupnya setengah tahun yang lalu,  bagaimana hening mengisi seluruh petak ruangan pada malam itu, dan bagaimana kecamuk ramai di kepalanya, bertanya tentang bagaimana langkah-langkah selanjutnya. Hingga akhirnya, lelah menyapa dan badai di benaknya reda, dan sebuah sinar muncul di dalam hatinya, bersama ingatan yang melayang kepada sebuah pohon tua yang pernah ia jumpa, Pohon tua itu tidak akan pernah tahu, sudah berapa kali ia menyelamatkan nyawa anak kecil itu, dan pada malam itu, anak kecil itu berkata dalam hatinya, "Aku ingin menjadi seperti dia!" dan malam pun berlalu, anak kecil itu kini memiliki api yang baru. Tidak diduga, Sang Kuasa mendengar  langit menjawab dan semesta mengantarkannya, ke tempat dimana anak kecil itu harusnya berada. Di samping pohon tua, belajar dan bertanya sebanyak yang ia bisa, dan juga menjaganya,  seperti halnya pohon tua yang sudah membuatnya bisa selalu ada di dunia.

Nyata

Dan di kota ini, mimpinya menjadi nyata. Tidak pernah bisa ia bayangkan, bertahun-tahun lamanya, impian yang selama ini ia simpan, menemukan tempatnya untuk ia jalankan.

Bunga

Seperti bunga, Manusia juga akan mekar pada waktunya.   Tidak perlu berlomba, Karena setiap bunga memiliki cantik yang berbeda .  

Berlayar

Jika manusia adalah kapal, tidak peduli kecil atau besar, tapi siapakah pengemudi di balik layar? Sudahkah dirimu benar-benar memegang kemudi? atau, kau malah lepas kendali, dan menanti daratan yang tak kunjung kau temui? Bagaimana dengan para penumpang dan segala muatan barang? kemana mereka akan kau daratkan? jangan sampai terbuang,  atau ikut tenggelam. Jika manusia adalah kapal, pastikan, hati dan akal sudahlah menjadi nahkoda yang handal, bukan bertengkar, di tengah lautan lepas, berhawa panas. Navigasi ulang, Karena, pelayaranmu masihlah panjang. 

Kembali Berjalan

Benar, rasanya begitu lelah, untuk mendengar kata-kata yang terus merendahkan. Seakan,  mereka tidak pernah kehabisan kosa kata, tidakpun ada yang terlewat dari mata, selalu akan ada hal baru, untuk meredupkan apa yang kau jaga, Benar, semua kata-kata itu rasanya begitu menusuk hatimu, setelah mendekap dan menjaganya dengan sisa sisa tenaga, tapi rasanya, tetap terkena juga, tepat, menembus hingga ujung dada. Dan hari-hari, kau isi dengan tanya-tanya di kepala, apakah aku benar-benar seperti itu? apakah aku setidak layak itu? kenapa aku yang selalu terkena kata-kata itu? Dan perlahan-lahan, kaupun semakin ragu, terhadap mampu dan isi duniamu. Tapi, tunggu.. apakah kau akan terus membiarkan hidupmu seperti itu? tenggelam dan hanyut kepada suara-suara yang tidak mengenalimu? atau, kau akan bangkit dan memperbesar suara hatimu? Ingat kembali niatmu, kuatkan kakimu, dan teguhkan hatimu, suara mana yang akan kau dengarkan di sepanjang hidupmu? suara mereka? atau suaramu? Benar, rasanya ...

Bersyukur dan Bersabar

aku bersyukur terhadap segala hal yang aku miliki, dan aku bersabar terhadap segala hal yang belum terjadi..

Hidup Sebagai Manusia

aku harap, kita dapat hidup dengan hati yang mulia, menjadi diri sendiri seutuhnya, dan berani untuk memegang kendali terhadap segala situasi yang terjadi. aku harap, kita dapat hidup dengan hati yang sederhana, tidak silau mata terhadap gemerlap yang di atas sana, dan berani untuk menjadi apa adanya. aku harap, kita dapat hidup sebagai "manusia".

Dua Puluh Tiga

Tiga hari menuju perayaan dua puluh tiga, Dan rasanya aku tidak ingin bertambah tua..   Bagaimana cara bersuka cita? jika tidak ada yang baik-baik saja? Tiga hari menuju perayaan dua puluh tiga, dan aku berharap, dapat berbahagia di kehidupan selanjutnya.            

Jadilah Bebas Nak

"Pak, harus menjadi apakah saya di masa depan?" tanya seorang anak kecil kepada seorang bapak di sebelahnya. Sorot sepasang mata yang telah berpuluh tahun melihat dunia, menyambut tanya anak kecil itu dengan seksama. Tawa kecil disudut bibirnya bertanya "Memangnya apa yang kau inginkan nak?"  "Hmm.. banyak! saya sangat ingin menjadi a, saya juga sangat ingin menjadi b! mungkin saya juga sangat ingin untuk menjadi lainnya!" jawab anak kecil itu sambil menggerakan tangannya seperti menghias angkasa, suara gulungan ombak berderu seakan mengimbangi semangatnya bercerita.  "tapi.. kenapa rasanya begitu berat untuk menjalani semuanya..?" tangan-tangan kecil itu tertahan diangkasa, dan deru ombak hilang seperti semangatnya yang memudar.  "Nak.."  "Menjadi bebaslah.."  "Menjadi bebas?" tanya anak kecil itu tidak mengerti.  "Ya.. jika kamu bertanya kamu harus menjadi apa, menjadi bebaslah jawabannya.." "Jangan...

Semoga Tidak Bertemu Lagi

Pada akhirnya,  anak-anak kecil itu berjalan sendiri-sendiri. Dengan merapikan dua buah ember yang tidak lagi terisi pasir, mereka berjalan dengan saling melambaikan tangan ditepi pesisir. Di depan mereka ombak  terus bergulung, berlomba-lomba dengan waktu yang semakin terhitung mundur, "Rumah yang berbeda", ternyata akan diwujudkan di tempat yang tidak sama. rumah mereka, ternyata akan diwujudkan masing-masing dengan orang yang ada di depan sana.  Pada akhirnya, anak-anak kecil itu berjalan sendiri-sendiri. Diam-diam saling menata diri, dan diam-diam saling berharap semoga tidak bertemu lagi. 

Apa Kau Juga?

Banyak yang terlupa, tentang mimpi-mimpi yang dibawa, kemana mereka semua? Tergulung oleh kesibukan, masih adakah waktu untuk mewujudkan? Tertatih-tatih bertahan, masih adakah tenaga untuk melakukan? Banyak yang terlupa, tentang mimpi-mimpi yang dibawa, apa kau juga? 

Mudah-mudahan

Beberapa dari kita, sudahlah berjalan begitu jauh, di tempat yang tidak sama seperti tahun sebelumnya, kini kita bertaruh. Berpegang kepada nyala api kecil yang kita jaga, kita semua sedang berusaha. entah menjadi apa nantinya, yang kita tahu,  lakukan dulu sebaik yang dibisa. Lelah, tentu. Sedikit yang mengerti, pasti. Pada akhirnya, hanya diri sendiri yang mampu memahami, tentang kaki yang ingin berlari, tentang hati yang ingin berteriak kencang sekali, dan tentang sakit yang hanya bisa ditelan sendiri. Mungkin inilah, sebuah jalan cerita, yang nanti akan terkenang manis pada akhirnya. tentang keberanian yang kita salutkan di masa depan, tentang harapan yang ternyata berhasil diwujudkan. Jangan dulu menyerah, jangan dulu pasrah, tapi berserahlah, kepada pemilik segalanya, kepada penolong kita semua. Mudah-mudahan bisa, mudah-mudahan tercapai semua, mudah-mudahan dimudahkan.

Susunan Kotak tak Bernyawa

Sebuah susunan kotak tak bernyawa, tersusun apik berbalut tawa yang lara, siapapun yang ada di dalamnya, tidak ada yang baik-baik saja. Seperti, burung yang terantai, yang perlahan mulai banyak berdamai, kepada waktu dan harapan yang terbuai, menyisakan tanya akankah aku bersemai? Sebuah susunan kotak tak bernyawa, bertumbuh dan bertambah tidak ada habisnya, siapapun yang ada di dalamnya, semuanya berusaha sebaik yang di bisa. Seperti, kepompong yang menanti, seperti apa bentuk sayapnya nanti, ketika ia terbang jauh dari sini. 

Akan Bisa

Entah seberapa jauh, entah seberapa lama, aku tetap ingin mewujudkan semua. Entah seberapa lelah, entah seberapa susah, aku tetap ingin berusaha. Karena aku harus bisa, bukan, karena aku percaya aku akan bisa.

Berjalanlah Selalu

Jangan pernah lupa, tentang semua yang kau lihat ada, semua tengah berusaha. Bergantung kepada asa, dengan cara berbeda, kita berlatih mewujudkan semua. Teruslah percaya, kepada mampu, dan hatimu.  Karena pada waktunya, merekalah yang akan menghantarkanmu, ke tempat.. dimana kesiapan dan kesempatan akhirnya bertemu. Dan hingga pada saat itu, berjalanlah selalu. Karena aku yakin, kau akan sampai pada waktumu. 

dan kota ini

dan kota ini, akan punya ruangnya sendiri dalam hati. bersama semua wajah yang pernah ia temui, akan tersimpan dalam bilik-bilik yang nanti ia buka lagi. Tentang jalanan yang lenggang, rumah-rumah tua yang kembali muda, dan beberapa tawa sederhana tapi mewah terasa, akan ia bawa.. Bersama setumpuk koper berisi asa, ia kayuh mimpinya sedari gelap buta, menuju kota bergelimang cahaya, ia siap mewujudkan semua. Tidak terasa, lautannya sudah di depan mata, tidak ada jalan kembali, ia akan mengarungi samudera nyata.

Mimpi

Meninggalkan beberapa, mengejar yang lainnya. Mengemaskan semua, berlari sejauh yang ia bisa. Lautan membentang, sayapnya mengembang. Kepada harapan yang ia pegang, suara kepakannya begitu lantang. Yang ia nanti, akhirnya terjadi. Jika semua ini adalah mimpi, jangan bangunkan ia lagi. 

Untuk dirinya sendiri

Pada akhirnya ia sadar, bahwa selama ini ia tidak pernah meminta apapun, hanya satu, waktu. Karena yang ia percaya adalah, ia tidak perlu meminta hal seperti itu, walau sedikit, akan selalu diberi bagi yang mau. Pada nantinya giliran mereka yang akan sadar, bahwa setelah ini, ia tidak akan pernah meminta apapun lagi, karena ia akan memberi dirinya sendiri, seluruhnya, tentang sesuatu yang tidak mereka beri.  Ia akan memberikan semuanya, waktunya akan ia habiskan untuk dirinya saja.

Sepi

Di ruang persegi, ia duduk sendiri, sedikit bertanya dalam hati, kenapa rasanya begitu sepi. Meja sebelah tampak ramai sekali, tawa bahak mengisi, dan ia lupa kapan tertawa lepas terakhir kali.

Menanti - Tenggelam Sendiri

Ternyata ia menunggu, sesuatu yang tidak akan ada titik temu. Karena ia sudah tenggelam, dalam perapian yang juga ia ciptakan, Tidak ada jalan kembali, untuk mendengar sesuatu yang baginya begitu berarti, Bisakah seseorang dapat mengerti, tentang besarnya hal yang ia nanti.

Waves

Kepalanya sakit sekali, sudah beberapa hari, dan beberapa obat ditelannya lagi. Khawatirnya kembali, cemasnya naik lagi, dan ia tidak ingin menutupi apa-apa kali ini.

Berserah

Aku berserah, bukan menyerah. Pada akhirnya, yang pegang Kuasa, adalah yang satu-satunya dapat dipercaya.

Tidak untuk dimengerti

Mereka berlari, pernah, Terhantam, pecah, dan tersusun kembali, pernah. Setiap hari, mengepul senjata, bersembunyi, masa depan, lawan atau wujudkan, pernah. dan, Mereka berlari, tidak kembali, senjata terbuang, harapan terbang, sudah.