Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2021

"Kau Siap?"

Hidup tidak selalu menyenangkan untuk diakui, hari tidak selalu indah untuk dijalani, semua dapat terjadi, tanpa sama sekali kita ketahui. Kehilangan, sudah seperti tragedi yang terulang, setiap kehidupan dimulai dengan kata menemukan. "kau siap?" "emang apa yang bisa dipersiapkan?" Tidak ada, tidak ada yang bisa kita lakukan, ketika semua datang. Mungkin, hanya satu, yaitu bertahan, untuk kembali menyapa suatu kata pertemuan. 

Orbit (Part.2)

Dalam garis orbit yang kita miliki, kita memiliki ceritanya sendiri-sendiri. Bertahun-tahun berputar tanpa ada yang mengetahui, terbakar bola api ketika jalur tidak terkendali, bersusah payah berjuang sendiri dalam dingin angkasa tanpa ada yang peduli. adalah alur yang memang harus kita lewati dan jalani. Karena, dalam garis orbit ini, kita juga dapat menemui, beberapa manusia yang berjuang untuk sama-sama selalu ada disini. walau beberapa kepala selalu penuh tanda tanya, namun tak jarang mereka tetap mencari cara untuk menikmati semua. Jadi.. mungkin, tetaplah seperti ini. berputar, bergerak, berjalan dan berlari, dalam garis edarnya sendiri-sendiri tanpa perlu saling mendahului, tanpa perlu saling menyakiti dan menghakimi, karena kita memiliki orbitnya sendiri-sendiri.  Tetaplah seperti ini, mendukung, menemani, mengerti dan memahami, dari garis orbitnya sendiri-sendiri tanpa saling mentabrakan diri. Isi hati dengan percaya, bahwa kita akan baik-baik saja, kuatkan hati untuk berp...

Burung Kecil

Ia seperti seekor burung kecil, yang selamanya selalu menanti, kebebasan yang tidak pernah ia miliki. Hidup dalam sangkar imajiner, mengurungnya,  membuat dirinya merasa bahwa, hidupnya seperti garis linear,  lurus, tidak berdetak, dirinya seperti cuitan tanpa nyawa, katanya. Yang ia nanti, adalah kebebasan, terbang dengan kepakan sayap lantang, menuju langit yang terbentang. Bersenandung riang, dengan langit sebagai pilihannya untuk pulang, untuk hidup dalam dekapan nafas panjang, untuk bahagia dalam seluruh cerita dimasa depan.

Langit

Dalam perjalanan mencari, kakinya sudah banyak terluka setiap hari, tangannya lelah namun ia tahan menuju pagi, senyumnya memudar hari demi hari,  namun, selalu ia tahan dalam kata "sedikit lagi", dan berulang kembali. Yang ia tahu, ia hanya harus jadi kuat,  ntah apapun yang terjadi, ia tak mau tahu. Badai yang tidak pernah berhenti, matahari yang selalu membakar hati, apa yang kamu suka di dunia ini? "langit" katanya pasti. seakan dia tidak peduli,  seberapa banyak langit menguji,  namun, ia tetap menyukai, tanpa sebuah tapi. Jadi.. langit, tolong berbaik hati, lindungi si pencari ini. beri awan jika ia lelah berjalan, beri pelangi jika ia kehilangan harapan, beri hujan jika ia kepanasan, beri hangat matahari jika ia kedinginan, dan beri bintang untuk selalu menemani setiap ia merasa sendirian. Langit, tolong lindungi si pencari ini. 

Bersama

Beberapa manusia terkadang, hidup dalam kenangan yang menyisakan sebuah trauma, yang ia ketahui, adalah menghindar sebelum terkena, bertahun ia menjaga diri,  dari segala ancaman yang ia takuti. bertahun ia menguatkan diri, untuk melawan jika yang serupa mendekati.  Berlari, ia mengisi hari hanya dengan berlari,  menghindar untuk menyelamatkan diri sendiri. Bersiap, ia berlatih untuk terus bersiap,  berjaga-jaga untuk selalu siaga kepada hal yang tak ia terka.  Terkadang, ketakutannya seperti awan, menggumpal, gelap, diatas kepala menurunkan hujan. terkadang ia menari, dibawah air mata yang menggenangi, memeriahkan dan menyemangati diri sendiri.  Baginya, hanya dirinya yang ia punya. baginya, hanya dirinya yang harus selalu ada, melewati semua, dan menyudahi segala trauma.  Hingga, akhirnya beberapa manusia terkadang bertemu dengan yang serupa, walau cerita yang mereka punya tidaklah sama, rasa lelah dalam berlari,  membawa mereka melebur dalam su...

Orbit (Part.1)

Mungkin jarang kita sadari, bahwa dalam hidup ini, kita berputar dalam sebuah garis orbit, milik kita sendiri-sendiri. Mengelilingi sebuah bola api, tanpa mengerti, kenapa kita harus melakukan semua ini. Beberapa berputar dengan pertanyaan yang tidak mengenal kata pudar, beberapa menikmati perputarannya tanpa ada pertanyaan dalam hati yang berpendar. karena katanya, ada beberapa hal yang tidak perlu ditanyakan atau dikhawatirkan, apalagi hal-hal yang membutuhkan jawaban atau alasan. nikmati saja,  setiap inchi pergerakan dalam alur lintasan.

Dunia Baru yang Berseru

Perjalanan jauh, hari lalu terisi dengan berlari dan mengayuh, harapan yang hampir rapuh, menara yang tidak pernah dapat disentuh, membawanya kedalam perhentian berjudul sungguh. Ada rasa yang terseduh, dibalik pekat cangkir yang bergemuruh, ada tenang yang membawa sembuh, dibalik hati yang perlahan tersentuh. Luruh, cemas tidak lagi tumbuh, perjalanan tidak lagi terburu, hatinya telah menyatu, kepada dunia baru yang berseru.

Semua Terlihat Sangat Berarti

Untuk pertama kalinya, tarikan nafasnya terasa sangat lega, seakan semua beban luruh dalam kedipan mata, senyumnya mengembang menghadap angkasa, bertanya apakah ini anugrah dari sang kuasa. Rumah tua didepannya, terlihat begitu sangat sempurna di matanya, kepakan sayap yang terbang kesana dan kemari, terlihat begitu riang mensyukuri hari, terlihat sama, seperti kami. Para manusia yang mencoba mencari arti, tentang seluruh langkah yang telah dilewati, tentang pahit yang dulu hanya bisa disimpan sendiri, tentang bertahan yang hanya bisa dipahami seorang diri, ternyata, berujung ditepi jalan ini. Disini, pada momen ini, semua terlihat sangat berarti. Tidak masalah jika waktu terkesan iri, dengan cepat ia seakan menggulir diri, bermutasi dari detik menjadi hari, tidak apa, manusia-manusia itu akan selalu mencari cara untuk mengabadikan memori. Untuk pertama kalinya, tenang sungguh ada di hatinya,  seperti sudah tidak ada lagi yang ingin ia pinta di dunia, selain, keberadaan manusia ya...

Jauh Kaki Mengitari Bumi

Jauh kaki mengitari bumi, berjalan-berhenti-memulai kembali, adalah fase yang selalu datang silih berganti. Berharap akan ada rumah yang mengerti, tentang luka yang susah payah diobati, berharap akan ada rumah yang tidak menghakimi, tentang salah dalam mengambil langkah yang telah dilalui.

Tenang

Pikirannya melebur, bercampur dan terbentur. berkali-kali sebenarnya sudah ia tersungkur, dalam dunia yang dimatanya tidak kenal kata akur. Pikiranya melayang, terbang,  bersama angan yang hanya bisa ia kenang, bersama harapan yang tidak lagi terbentang. Badannya tidak mengerti, kenapa ia harus berada disini, ditempat yang tidak pernah ia kunjungi, mencari sesuatu yang tidak pernah ia ketahui. Terkadang yang ia inginkan hanyalah.. tenang.

Si Pengelana

Hidup memang tidak terduga, entah kemana kita jauh berkelana, atau sekedar berjalan sebentar mengeliling kota, dengan kopi tanpa gula, hidup bisa membawa kita untuk mendengar sebuah cerita.  Cerita tentang si pengelana, mungkin begitu kita bisa menyebutnya. Tidak tahu pasti, bagaimana kehidupan membentuknya. perjalanan yang tidak terduga, perpindahan yang dulu tidak ada habisnya, membentuknya, menjadi manusia, yang tidak ada habisnya memahami dunia dan seisinya. Kepalanya selalu bertanya, namun hatinya selalu menjaga, banyak rasa yang ia beri, pada benda yang mungkin tidak orang lain pahami, tidak pernah ia tinggalkan sendiri, baginya benda mati juga butuh dihargai dan ditemani. Tidak tahu pasti, seberapa pahit jalan yang ditempuhnya, hingga rumah kedua adalah pilihannya untuk ada di dunia. Tawa diujung kalimatnya, terdengar seperti sebuah ketegaran yang selalu ia bawa kemana dirinya berada. seperti senjata, seperti pedang, matanya,  tajam dan ramah disaat bersamaan.  Si...