Tawa Sumbang

Tawa itu terdengar sumbang di telinganya,
candaan yang mengiris hatinya,
kian mengikis rasa percayanya terhadap dunia.

Tidak ada yang lucu di matanya,
gelak tawa yang harus ia maafkan,
membuatnya lupa akan arti dimanusiakan. 

Seperti hujan.
tawa sumbang itu terus menghujam,
dan ia terkapar,
kepada suara yang terus berputar,
kepada ingatan yang sungguh ingin ia lupakan. 
kepada manusia.. yang sungguh sudah lelah untuk ia maafkan.

Untuk kesekian kali,
ia hanya bisa berbisik kepada dunia,
"tidak apa-apa jika memang begini adanya."
ia hanya perlu menerima,
dan belajar untuk menari diatas rasa lelahnya.

Karena ia percaya,
hujan akan berhenti juga pada waktunya,
menyapu suara sumbang di kepalanya,
dan berganti,
kepada tawa bahagia yang akan tiba. 
tanpa terduga,
dunianya bisa jadi berbeda. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lautan

Sempurna