Lilitan Kita
Malam ini aku sedang membuat secangkir teh panas,
Hatiku rasanya sedang campur aduk, entah karena apa,
Rutinitas yang padat dan minimnya istirahat, mungkin satu-satunya yang bisa menjadi alasan dari ketidak jelasan yang aku rasakan.
Hatiku rasanya sedang campur aduk, entah karena apa,
Rutinitas yang padat dan minimnya istirahat, mungkin satu-satunya yang bisa menjadi alasan dari ketidak jelasan yang aku rasakan.
Tapi sayangnya, kesabaran ku semakin diuji malam ini,
Ketika mau membuat teh untuk menenangkan diri,
Kantong teh itu tidak mau bekerja sama untuk memudahkan urusanku menyeduhnya,
Dia terlilit, dan aku sedikit tidak menyukai,
Rintangan-rintangan kecil yang dapat memancing emosi diri.
Dan akhirnya aku membiarkan ia terlilit sendiri.
Aku memilih untuk tetap memasukannya kesegelas cangkir panas walaupun bentuknya menjadi aneh dan hatiku semakin ganjal melihatnya.
Ketika aku perhatikan kembali kantong teh yang terlilit itu,
Tidak ada yang berubah,
Dia tetap menjadi kantong teh yang dengan baik menjalankan tugasnya,
Rasa teh itu tetap sama,
Hanya penampilannya saja yang berbeda.
Sama seperti kita,
Yang terkadang menjadi kusut, merasa tidak cukup baik,
Bukan berarti tanda kita telah gagal menjalankan tugas kita di dunia.
Manusia kusut itu tetaplah manusia.
Jika kita bisa bersabar sedikit untuk membuka tali kita,
Kita bisa menjadi sesuatu yang lebih baik dari sebelumnya,
Menjadi kantong teh yang mekar sempurna di dalam seduhan,
Menjadi manusia yang sadar dan berdaya di setiap keseharian.
Jadi,
Bersabarlah,
Terhadap lilitan-lilitan kita bersama.
Terhadap lilitan-lilitan kita bersama.
Komentar
Posting Komentar