Postingan

Kita Pernah Bahagia

Pada waktu titik tertentu, tentu kita pernah merasa bahagia, mengenal bahwa dunia ternyata terdiri dari berbagai warna, yang belum pernah kita rasakan sebelumnya. Tawa, seperti hal yang disyukuri berkali-kali, tidur yang nyenyak, tanpa khawatir tentang esok hari, juga pernah kita alami.  Seakan hidup benar-benar terasa sedang berada dipuncak komedi tertinggi, pada titik itu, kita pernah merasa bahagia, setelah dahulu menunggu perputaran yang lama, akhirnya kita pernah merasakannya juga. Walaupun, banyak yang telah terjadi, banyak yang telah terlalui  hingga kini..  kita sudah berada di puncak terendah lagi, semua yang berlalu sudah tidak sama lagi, dan semua yang dahulu sudah menjadi masa lalu, tidak apa-apa. Beberapa hal memang tidak bisa dipaksakan, karena mungkin saja nantinya bisa menyakitkan, beberapa hal memang harus diikhlaskan, karena bagaiamanapun, diakhir cerita selalu tentang merelakan. Yang hadir kemudian pergi, yang dulu bersama kemudian tidak lagi sama, yang...

Kita Hanya Manusia Biasa

Pada akhirnya, kita hanyalah manusia biasa, yang masih banyak tidak mengerti tentang dunia dan manusia, yang terkadang tidak bisa melakukan apa-apa juga.  Banyak salah yang kita lakukan, banyak perkiraan yang terlewat kita perhitungkan, dan banyak hal yang tidak bisa kita lakukan bersamaan.  Menjadi kuat terkadang seperti jebakan, karena akan ada suatu hal yang harus dikorbankan, tak jarang, perihal rasa-merasa-dan perasaaan, sering kita matikan.  Kehidupan seakan berjalan hanya untuk memenuhi tuntutan, dikejar habis-habisan, tak ada jeda untuk mengatur pernafasan.  Pada akhirnya kita hanyalah manusia biasa, menjadi lemah terkadang juga tak apa, menjadi salah juga hal yang biasa, karena kita juga sama sama pertama hidup di dunia.  Pada akhirnya kita hanyalah manusia biasa, yang jauh dari kata sempurna, dan lagi-lagi hal itu tak apa, bukan kewajiban kita juga untuk memenuhi ekspektasi semua. Pada akhirnya kita hanyalah manusia biasa, sungguh biasa dan tidak ada ...

Tebing

Terkadang, ada masa dimana kita seperti.. berdiri di ujung tebing yang sangat tinggi. Setelah semua perjalanan yang kita lalui, seakan semua berujung ke tebing yang sama lagi. mirip seperti tebing ini.  Terkadang, ada masa dimana, kaki terasa begitu lemas untuk berdiri, terlalu kuat pula angin berhembus diatas sini. Terkadang, ada masa dimana yang kita butuhkan, hanyalah satu alasan kenapa kita harus bertahan. bertahan saat hidup seakan tidak lagi menyuguhkan pilihan. Terkadang, ada masa dimana akhirnya kita tersungkur, sulit sekali rasanya untuk bangkit, karena kehidupan terasa begitu sangat pahit.  Tubuh yang sakit, jiwa yang terhimpit, diatas bukit, hati menjerit. "Tak apa, ini hanya sementara" "Tak apa, kitakan manusia" "Tak apa, semua akan baik-baik saja" Mungkin jika sudah seperti ini.. tidak baik juga jika kita terlalu memaksakan diri, untuk mencari satu atau seribu alasan mengapa kita harus bertahan di dunia ini.  bisa jadi alasan bukanlah satu-sa...

Tuntutan

Tanpa disadari, bertahun-tahun kita habiskan, untuk mewujudkan tuntutan, yang tidak pernah menjadi pilihan jalan kehidupan. Berat, sudah pasti. lelah, jangan ditanyakan lagi. tidak pernah cukup, seakan balasan dari semua yang sudah dilalui. Perjalanan panjang, kita lalui untuk siapa? perihal membahagiakan, kita tuju untuk siapa? karena salah seakan selalu untuk kita. Menyimpan luka agar tidak terlihat, ternyata tidak membuat semua semakin erat. penat,  ditambah tidak bisa berpendapat.  rehat? mana sempat. Apakah semua tuntutan,  harus selalu diwujudkan? dimana kehidupan yang katanya pilihan? apakah begini kehidupan seharusnya dihabiskan? hanya untuk membuktikan, dengan harapan dapat membanggakan. Lalu bagaimana dengan semua yang sudah diupayakan, semua kebaikan yang berujung dengan ketidak-percayaan, apakah akan disebut kegagalan,  jika semua prestasi yang didapatkan, tetap tidak pernah dihiraukan? Karena berpura-pura, sangat menguras tenaga. Namun menjadi apa adanya...

Tentang Ketakutan

Menurutku, kita semua pasti memiliki suatu ketakutan, yang tidak bisa kita ungkap atau jelaskan. Karna kita juga tidak mengerti, dari mana dan kenapa bisa ketakutan itu melekat di dalam hati.  Bertahun hidup dalam kegelapan, pasti akan sangat senang ketika ada cahaya yang tak diundang datang, seperti menemani hari-hari,  menghadirkan gelak tawa yang susah berhenti, membuat perjalanan kini terasa lebih berarti. Namun ditengah kebahagiaan yang sedang dirasakan, rasa takut datang mengetuk pintu harapan, katanya "jangan dulu terlalu senang" "-karna kegelapan bisa saja juga datang tanpa diundang," dan kita tertunduk dalam diam, memikirkan segala kemungkinan terburuk yang bisa saja datang, menarik diri dari kesenenangan, dan memilih untuk tidak merasakan agar tidak kecewa dimasa depan, tanpa sadar, sering kita lakukan.  Namun jika diingat kembali, sudah berapa kesempatan yang terlewat karena kita khawatir akan kesalahan di masa depan? sudah berapa banyak kehilangan yang d...

Part 2. (Ia Bukan) Manusia Buta Rasa

Selama ini, ada seorang manusia yang tinggal dalam menara tinggi, rerumputan yang jauh dari kaki, membuat ia sadar sudah terlalu lama ia mengurung diri diatas sini. Rasa bersalah tak jarang datang menghantui, pertanyaan yang tak pernah ada jawaban, ia fikirkan sendiri sejauh ini.  Hingga datang suatu pagi, saat sinar mentari menyapa dari ufuk yang jauh sekali, tersenyum  sembari menyinari sudut gelap yang tak pernah ia sadari. "hidup tidak sebatas tentang salah dan benar bukan?" "hidup tidak harus diisi dengan berbagai tanya yang memusingkan kan?" "kalau kamu salah, hidup tidak berhenti sampai disini kan?" tanyanya disuatu pagi. Tersadar ia atas kegelisahan yang menyita diri, ia lihat cahaya itu sekali lagi "ayo keluarlah dan nikmati hari"  ajaknya sambil berlari.  Bertahun berdiam diri, mencari pertolongan karena takut akan sepi, kini manusia itu keluar dari menara imajinasi yang ia pasang dalam pemikirannya sendiri, jika dahulu ia menunggu sia...

Part 1. Manusia Buta Rasa

Dahulu banyak manusia yang berteriak, tentang seorang manusia yang buta rasa,  tentang usaha yang diberi selalu berujung sia, dan tentang menara yang menjulang tinggi, yang dipanjat tak akan pernah bisa.  Segala cerita yang mencela, menjadi jejak akhir dari perjuangan yang tak bersisa. "kau si buta rasa!" teriak mereka.  Menaranyapun semakin bertambah tinggi, apa yang salah dari melindungi diri sendiri? Pintu semakin rapat terkunci, membuat ia menarik diri, lebih jauh lagi.  Malam ia lewatkan seorang diri, mempertanyakan semua hal yang ia tidak mengerti, tak jarang ia kehabisan akal melihat semua yang terjadi. sempat ia mengiyakan, segala kata yang menghakimi, ia terima bulat-bulat sendiri.  Namun, lagi dan lagi semua hari ia isi dengan bertanya dalam hati, berputar dalam menara tinggi kesana-kemari, mencari jawaban tentang salah yang ia tidak ketahui.