Postingan

Ia Hanya Ingin Hidup, Katanya

Terkadang, bukan badai besar diluar sana yang harus ia takhlukan, melainkan, gemuruh petir didalam kepala, yang harus ia kendalikan, berlayar mengarungi pikiran sendiri, menerjang kuat ombak kenyataan, yang bertentangan dengan keyakinan. tiap malam mencoba menyelamatkan diri, dari pertarungan di dalam kepala ini. Terkadang, bukan kobaran api diluar sana yang harus ia cemaskan, melainkan, ledakan amarah dalam hati yang harus ia padamkan. mencari pembenaran, namun tidak ada yang bisa disalahkan. mencari perlindungan, namun tidak ada yang bisa menenangkan. tiap hari menyirami hati, memadamkan kobaran api diri sendiri.  Tidak ada pembeda diantara tangis atau tawa, semua terlihat lucu katanya. Dunia yang tidak ia kenali, menyapa dan melahapnya tanpa peduli. Kenyataan yang tidak ingin ia ketahui, menyuguhkan fakta yang tidak bisa ia hindari. "Hadapi!" teriak langit disuatu hari. Ia yang selalu berlari,  tidak memiliki pilihan, selain menjadi berani. sekali ini, untuk saat ini, bara...

Beranjak Dewasa

Mungkin, bagi beberapa manusia.. bukan menjadi tua, yang ia takutkan saat beranjak dewasa. Namun, yang ia takutkan adalah tentang.. menjadi manusia yang harus mampu untuk menahan semua, menahan semua kecewa yang dirasa, menahan tangis dan mengubahnya menjadi tawa, menahan rasa bahagia agar tidak habis tak bersisa. intinya.. menahan semua yang dirasa dibalik sebuah kata  "tidak apa-apa" Dipaksa untuk bisa, dituntut untuk memiliki segalanya, di usia muda, harus sempurna, kata mereka. Tidakkah semua seperti jebakan, jika begini rasanya? Menjadi dewasa, mungkin adalah perjalanan dan pembelajaran setiap manusia, jika saat ini belum bisa untuk memahami semua, untuk memiliki segalanya, untuk menjadi apa kata mereka, mungkin..  tidak apa-apa juga.. Karena beberapa manusia, jika terlalu dituntut dan dipaksa, tak jarang mereka akan hilang pada akhirnya, tersesat dan tenggelam, sembari bertanya, milik siapa hidupnya sebenarnya? suara siapa yang harus ia dengar seutuhnya? hati mana yang...

"Sampai nanti, kau akan bahagia kembali."

Mata yang panas, hati yang kering, tangis yang pecah, pipi yang basah, mulut yang bisu, suara yang tak terdengar, pikiran yang tak jelas. Kecewa yang membara, hati yang hangus, tubuh yang lemah, tidak berdaya. Bahagia yang jauh, matahari bersembunyi, gemuruh jatuh, hujan tiba, matahari tak tenggelam, kaki langit menghitam,  gelap tanpa malam. Harap, "Harap bersabar" katanya, Bertahan, "Bertahan dulu!" teriaknya, "Sampai kapan?" teriak seorang manusia, suara yang tersisa, bertanya kepada langit dan semestanya. "Sampai nanti, kau akan bahagia kembali."

Impian, Ketakutan dan Keberhasilan

Tidak ada yang lebih menggetarkan, selain jembatan menuju impian yang diidam-idamkan,   Tidak ada yang lebih menakutkan, Selain kegagalan dan kejatuhan dalam melalui semua cobaan,   Tidak tahu apa yang akan terjadi, Tidak tahu apa yang dirasa, Karna saat ini.. “Tidak ingin membuat kecewa” adalah yang tersisa di dalam kepala.   Tidak bisa kembali, Tidak bisa berhenti sendiri, Tak ada jalan selain melewati..   Segala ketakutan yang tersisa di dalam diri.   Karna yang aku percayai.. tidak ada yang lebih menakjubkan, Selain keberhasilan yang menunggu dihujung jalan nanti.

Pada Waktunya

Beberapa manusia, seakan hidup di dalam kepala manusia lainnya, tergenggam dalam kepalan mengadah di setiap malamnya, Tidak berbicara, tidak juga menyapa, namun ada, dimana dan kemanapun dirinya berada. Usahanya,  bisa jadi berujung sia, namun berhenti bukanlah keputusannya, karena ia percaya, akan ada waktu dimana ia bisa menunjukan semua. Tidak apa jika saat ini hanya ada di dalam doa, karena nanti pada waktunya, pada jalannya, entah harapannya akan menjadi nyata, atau tergantikan oleh lainnya, semua ia percayakan kepada-Nya. Sang pemilik semesta, dan sang pengabul segala doa.

Memulai Kembali

Kita menghitung hari, menaruh mimpi, untuk berjumpa lagi. Jika bisa, mari bercerita, tentang mimpi yang tidak biasa. Melawan samudera, terbang diangkasa, dan hanyut dalam bahagia. Sederhana, namun sulit untuk bisa, Rencana, itu yang belum dicoba. Jika nanti, dunia membawa kalimat "sekali lagi" tidak ada salahnya, kita memulai kembali.

Yang Berjuang, Telah Menang

Mungkin, saat ini bagi beberapa manusia, perpisahan tengah akrab menyapa, kedatangan yang sangat ditakutkan, terjadi tanpa peringatan, dan kita tertunduk pada kenyataan, dipaksa menerima segala kepahitan tanpa persiapan. Mungkin saat ini, rasanya.. Sulit untuk melanjutkan, sebuah kehidupan yang masih panjang mereka katakan, sulit untuk kuat apalagi menguatkan, karna tubuh seperti telah lebur dan habis dalam kepedihan. Setengah jiwa rasanya telah pergi, ikut terbang tinggi, bersama mereka yang telah mendahului. Sendiri, rasanya sangat sepi. dan mungkin,  tidak banyak yang dapat mengerti dan memahami, bahwa semua memang berat rasanya untuk dilalui. Mungkin, inilah yang dikatakan kehidupan, tidak ada yang abadi dalam pelukan, yang berjuang, telah menang, dan mereka terbang, menuju keabadian untuk pulang. Kenangan yang mereka tinggalkan, simpanlah dalam ingatan, taruh dalam jiwa terdalam, karena mereka akan selalu ada disana disaat semangatmu padam, Ambil waktu hingga terasa tenang, s...