Postingan

Tawa Sumbang

Tawa itu terdengar sumbang di telinganya, candaan yang mengiris hatinya, kian mengikis rasa percayanya terhadap dunia. Tidak ada yang lucu di matanya, gelak tawa yang harus ia maafkan, membuatnya lupa akan arti dimanusiakan.  Seperti hujan. tawa sumbang itu terus menghujam, dan ia terkapar, kepada suara yang terus berputar, kepada ingatan yang sungguh ingin ia lupakan.  kepada manusia.. yang sungguh sudah lelah untuk ia maafkan. Untuk kesekian kali, ia hanya bisa berbisik kepada dunia, "tidak apa-apa jika memang begini adanya." ia hanya perlu menerima, dan belajar untuk menari diatas rasa lelahnya. Karena ia percaya, hujan akan berhenti juga pada waktunya, menyapu suara sumbang di kepalanya, dan berganti, kepada tawa bahagia yang akan tiba.  tanpa terduga, dunianya bisa jadi berbeda. 

Closure (Pt.2)

"bukankah dia memang harus pergi?" "yaa.." "bukankah kau juga tidak menginginkan dia ada disini?" ". ..bukan begitu, tapi.. entahlah aku tidak tahu" "bukankah memang sebaiknya dia bebas?" "... ya, benar ." "kenapa kau harus sedih? apakah kau menyesal?" "... tidak " "kau mungkin sedang merasa kehilangan" "..." "tidak apa-apa bersedih, tapi kau juga harus ikut merayakan." " merayakan apa? " "kebahagiannya."

Akal dan Perasaan

 "Aku bingung."  "Kenapa?" "Menurutmu bagian yang paling penting dalam menjadi manusia apa?" "Hmmm, memiliki akal dan perasaan (?)"  "Lalu, yang paling sulit dalam menjadi manusia?"  "Menyeimbangkan keduanya."  "..."

Closure.

Selamat jalan. Sudah saatnya kali ini untuk kau temukan, wajah-wajah baru yang akan menemani lembarmu, cerita-cerita baru yang menunggu, dan tempat-tempat yang menanti untuk kau tuju. Sudahi ceritamu pada yang lalu, yang selalu kau coba,  namun tidak ada juga celah yang bisa kau raba. Aku harap, pada perjalanan yang baru, kau akan menemukan bahagiamu.

Dialog Hari Baik

"ternyata semua bisa dilalui bukan?" ".. benar"  "ternyata rasa bahagia itu kembali bukan?" "hahaha iya.." "ternyata yang kau resahkan tidak semenakutkan yang kau pikirkan kan?" "..yaa, ternyata semua biasa saja." "teruslah ingat rasa ini, jika nanti bumi berputar lagi dan kau akan dihadapkan oleh sesuatu di depan sana, ingatlah, hari baik akan selalu datang, dan pada akhirnya, kau akan baik-baik saja.." "rayakan apa yang kau rasa, bersenang-senang dan berbahagialah."

Untuk Sesaat

Masalah seakan datang bertubi-tubi, dan aku hanya ingin sendiri. berdiam diri, karna aku tidak sanggup untuk berlari. Bisakah dunia baik-baik saja untuk sesaat, bisakah ada sedikit jeda, karna aku lelah menutupi luka dan harus terus berpura-pura. Rasanya, aku tidak lagi berharap untuk merasa bahagia, karena sudah tidak ada tenaga yang tersisa, untuk menyambut sedih yang mungkin sedang mengantri di depan sana. Bisakah dunia baik-baik saja untuk sesaat, karena aku, sangat ingin beristirahat.  Hai manusia kuat, bukankah seperti itu yang sedang kau rasakan untuk sesaat? Dunia yang harus terus kamu lawan, bukankah pada akhirnya terasa begitu melelahkan? Semua cerita yang selama ini kau pikul sendirian, beserta segala kenangan yang kau simpan dalam-dalam, bukankah sedikit-banyak kini begitu terasa semakin memberatkan? Hai manusia kuat, sudah begitu lama kau bertahan, sudah begitu jauh kau berusaha untuk melupakan, namun, rasa sesak bukankah masih kau rasakan? Hai, sudah.. berhentilah un...

Dialog Waktu

"apa hal yang paling kamu takuti di dunia ini?" "waktu." "waktu?" "ya." "kenapa?" "karena .. waktu tidak terduga." "karena.. kamu bisa saja kehilangan sesuatu atau seseorang yang kamu cintai tanpa aba-aba." ".." "lalu.. apa hal yang paling kamu suka di dunia ini?" "waktu." "waktu??" "ya." "kenapa?" "karena waktu itu tidak terduga." "kamu bisa merasakan moment indah yang tidak pernah kau kira akan ada."