Postingan

Beberapa - Semua

"kau tahu tentang konsep beberapa - semua?" "maksudnya?" "ya seperti.. Beberapa manusia sungguh bahagia, sehingga ia takut untuk tiada, beberapa manusia sungguh tersiksa, sehingga ia tidak mau ada di dunia. Beberapa manusia sedang berbunga, sehingga bahagia menjadi satu-satunya udara yang ada, beberapa manusia sedang berlarut dalam duka, sehingga sesak menjadi satu-satunya yang memenuhi dada. Beberapa manusia sedang hidup, beberapa manusia sedang meredup. Beberapa manusia sedang berenang, beberapa manusia sedang tenggelam. " "lalu apa yang 'semua'? " "semua manusia sementara." "termasuk bahagia dan lara yang sedang dirasa." " .."

Landak Kecil

Ia seperti seekor landak kecil, tersesat dalam rimba kehidupannya yang mungil. Berjalan, berlari, berhenti dan bersembunyi, entah kemana ia harus pergi. Setiap langkah yang ia lalui, tidak pernah ia berfikir untuk kembali. Walaupun jurang sudah lebar membentang di hadapan, ia tetap menyusuri secara perlahan, bermodal duri sebagai perlindungan sekaligus harapan, ia memilih terjun kedalam ketidakpastian.  Entah apa yang akan ia temukan, dalam jurang yang penuh kegelapan, dalam kehidupan ketika semua orang berteriak "Jangan!". Seekor landak kecil, yang tetap berjalan ditengah ketidak tahuan dan kehilangan, walau beberapa kali ia meringis kesakitan, tak jarangpun sekarat atas setiap pilihan, dalam benaknya tetap selalu tersisa harapan. Harapan tentang, seberapapun gelap kehidupan  yang ia rasakan sekarang, ia percaya tetap bisa melewati segala rintangan. Tidak ada ekspektasi, yang ia simpan dalam hati. Karena yang ia tahu, ia hanya ingin melewati jurang ini. Entah apapun yang ak...

Lautan Penyesalan

Waktunya habis, ia tenggelam dalam lara tidak berkesudahan. bermimpi tentang keabadian yang menangkan, selamanya bermimpi tentang sesuatu yang ia idamkan. Tidak ada yang sia-sia, hidup yang penuh dengan berpura-pura, ia nikmati setiap tawa untuk menutup luka. Hatinya entah sudah dimana, entah sudah pergi, entah mungkin tidak akan kembali. Yang tersisa hanya raganya, mengenang seluruh waktu yang dulu ia punya. Ingin rasanya ia kembali, berlari sekencang mungkin menuju suatu hari, dimana seharusnya ia sedikit bernyali. Namun, waktunya telah terhenti. tidak ada lagi yang berdiri disini. Seluruh kenangan telah terangkat menjadi awan, dan berubah menjadi rintikan hujan yang menenggelamkan. Waktunya telah habis, ia telah tenggelam,  dalam lara tidak berkesudahan, yang kita sebut sebagai lautan penyesalan. 

Bagaimana

Bagaimana mungkin,  kamu bisa merasa bahagia, disaat semua seperti api yang sedang membara? Bagaimana mungkin, kamu bisa merasa tenang, disaat semua yang kamu dengar adalah petir yang menggelegar? Bagaimana mungkin, kamu bisa merasa aman, disaat semua yang kamu lakukan penuh dengan kata ancaman? Bagaimana mungkin, kamu bisa mencintai, disaat semua terlihat sangat melukai? Bagaimana mungkin, kamu bisa hidup, disaat semua membuatmu meredup? Lalu apa? apa yang akan menunggu di depan sana? Bagaimana? cara untuk melalui ini semua?

Tempat Tanpa Nama

Ia hanya ingin berada di satu tempat. tempat yang tidak pernah ada. tempat tanpa nama. Sebuah tempat, yang menjadi lemah bukanlah masalah. sebuah tempat, dimana marah menjadi hal yang tidak pernah. Apakah terlalu tinggi,  hanya sekedar untuk bermimpi, tentang hidup yang sangat ramah untuk dijalani? Apakah terlalu jauh, untuk mencari, tentang tempat untuk menjadi diri sendiri? Hutan mana yang harus dilalui, hujan seperti apa yang harus diterjang sendiri, hingga nanti, akhirnya mampu untuk berhenti, di tempat yang tidak pernah ada, di sebuah tempat tidak bernama? Dimana? sebuah tempat untuk bisa beristirahat, di dalam kata selamanya?

Dialog Hidup

"Kamu tahu? di hidup ini aku banyak sekali melihat manusia.." "manusia apa?" "manusia yang hidup dengan penuh ketakutan, entah di matanya, atau di benaknya." "ooh ya? takut? akan hal?" "tebak saja." "hmm.. perpisahan? kesedihan? kesengsaraan?" "bukan." "jadi?" "ketakutan untuk menjadi diri sendiri, ketakutan untuk memilih jalan yang dia yakini." "..." "lalu kau tahu? akhirnya aku banyak melihat manusia yang mati. padahal dirinya masih ada di bumi,  masih berjalan dan bernafas setiap hari." "kenapa?" "yaa, karena mereka akhirnya menjalani, hidup yang tidak mereka sukai." "dan aku pernah mati, bagaimana dengan kamu?" "aku?"  " jangan sampai mati, kamu harus hidup." "hiduplah, untuk dirimu sendiri terlebih dahulu,  untuk berani mengambil langkah yang kamu yakini, untuk berani bertanggung jawab atas seluruh hal yang kamu lalui....

Tidak Perlu

Tidak perlu terburu, untuk menuju tempat yang dituju, untuk memburu mimpi yang berseru. Tidak perlu gegabah, untuk memutuskan tempat singgah, untuk meluapkan segala amarah. Tidak perlu menyumpah, untuk segalanya yang terkesan pecah. Tenangkan diri, untuk mencari. Tenangkan diri, untuk melewati semua ini.