Postingan

Terbakar

 “Aphrodite..  bolehkah aku mengetahui, kenapa hatiku rasanya terbakar, oleh sesuatu yang aku tahu tidak bisa ku tawar?” tanya seorang manusia kepada dewi termasyur di Semesta, tidak mendengar jawaban, manusia itu kembali bertanya dengan isakan, “Aphrodite, bisakah kau berikan aku penawar? sungguh, racun benci kepada diri sendiri ini begitu cepat menyebar!” Aphrodite menolehkan wajahnya, “Penawar?” “ya.. bisakah kau berikan aku sedikit penawar?” isakan manusia itu kini semakin menggelegar.   Aphrodite menjulurkan tangannya, mengucapkan beberapa kata,  dan seekor ular kecil tiba-tiba muncul disana, melilit jemari-jemarinya yang lentik,dan bermain di atas emas-emas yang bertengger cantik. “Kau tahu.. seperti bisa ular, jika kita tergigit,  penawarnya ada pada dirinya sendiri..”  “maksudnya?” tanya manusia itu tidak mengerti.. “jika jiwamu terbakar, penawarnya sudahlah ada di dalam sana, kau bisa memutuskan, apakah akan kau gunakan atau tinggalkan.” “Aphrodite...

Aphrodite dan Cupid

"Jelas manusia-manusia itu mengerti, tentang sebuah awal dan sebuah akhir, dari cerita-cerita yang tidak pernah terpikir." "Tapi kau tahu apa yang terjadi?" tanya Aphrodite kepada para Cupid, di tengah hamparan awan, mereka berkumpul, mendengarkan tentang kisah bertemakan perjuangan dan perpisahan, tentang menemukan dan merelakan. Dan Aphrodite melanjutkan, "Mereka mencobanya,  meskipun mereka tahu betapa perpisahan akan segera datang menyapa, tapi mereka mencobanya. Mereka bertaruh kepada ketidak mungkinan yang nyata, dan jelas, menusia-manusia itu mengerti, dan sangat memahami cerita-cerita itu tidak akan terjadi." "Karena bagi mereka, ini bukanlah tentang kisah yang harus dimenangkan, tidakpun harus diperjuangkan, ini semua adalah tentang merasakan, bahwa ada, selalu ada cerita, pada setiap pertemuan mata yang menyimpan banyak kerinduan, dan pada setiap cerita-cerita yang hanya bisa mereka simpan sendirian." "Lalu apa yang akan kau lakuka...

Kambing

 Seekor kambing yang tertawa, bersuara namun tidak tahu apa-apa, nyaring namun merasa paling merdu sedunia. Oh Kambing, pelanlah kau berbicara, bukalah mata, kawananmu adalah serigala. Oh Kambing, berhentilah mengadu-adu, mengada-ada, karena kami, memerhatikanmu juga.

Pergi

“Pergi” selalu datang tanpa aba-aba, tapi kita malah menyambutnya karena kita tahu waktunya akan tiba. Barang sebentar lagi, beberapa hal akan berbeda, dan kita menahannya, meyakinkan diri ini yang terbaik apa adanya.. “Pergi” selalu datang bersama rasa tidak berdaya, tapi kita malah merayakannya karena kita tahu semua akan baik-baik saja pada akhirnya. Barang sebentar lagi, beberapa hal tidak lagi sama, dan kita menahannya, meyakinkan diri ini yang terbaik untuk semuanya..

Panah

Gambar
dan ia mematahkan semua panah yang menancap di tubuhnya, sudahlah ia terlalu lelah untuk menerima semuanya, bukan seperti ini kehidupan yang ingin ia perjuangkan dalam hatinya. dan ia mematahkan hatinya, sudahlah ia terlalu lelah untuk merasakan semuanya, bukan seperti ini kisah yang ingin ia miliki dalam hidupnya.

Menyimpan Semuanya

Dan ia akan menyimpan semuanya, mengingatnya dalam keterbatasan memori yang ia punya, bahwa akan selalu ada, sesuatu yang hidup di dalam dirinya. Dan ia akan mensyukuri semuanya, melukisnya dalam keterbatasan garis tangan yang ia punya, bahwa tidak akan pernah ada, sesuatu yang terlewat di ingatannya. Ia tahu, inilah yang terbaik untuk semua, dan tidak perlu ada yang harus melompat menuju keterbatasan yang mereka punya. Disini saja, bersama-sama dalam diam mata yang bersuara, sampai nanti.. kita merelakan jalan yang tidak pernah ada.. Dan ia akan menyimpan semuanya, mengingat dan melukisnya dengan senyum yang ia punya. 

Kehebatan Mereka

"Kau tahu kehebatan kita?" "Apa?" "Kesendirian."