Persimpangan
Hari ini pikiran ku berjalan-jalan,
jauh,
hingga akhirnya aku tiba pada satu titik persimpangan..
Cukup lama aku berdiam untuk menentukan jalan,
berfikir
dan merenung
tentang..
"Lalu setelah ini apa?
Kehidupan apa yang hendak aku nikmati
jika diri terlalu penuh atas rasa sakit hati?
Bumi telah tercipta beribu tahun yang lalu,
dan aku hanya satu dari sekian milyar manusia..
yang berjalan menyusuri fase waktu.
Kita semua berdurasi,
Kita semua sementara,
jadi untuk apa aku memeluk rasa yang menyakitkan seakan semua bertahan lama?
Terkadang aku merasa ego telah menghancurkan aku untuk menjadi manusia,
berfikir hidup hanya tentang menyelamatkan diri sendiri, adalah kesalahan nyata yang aku perbuat di dunia ini.
berfikir hidup hanya penuh atas rasa luka, adalah kesia-siaan yang telah aku jalani di dunia.
Jika hidup hanya untuk menyelamatkan dan menghidupi diri sendiri, lalu untuk apa waktu ku di bumi?
Jika hidup hanya tentang sembuh, manusia tidak akan pernah benar-benar sembuh sebelum raganya tak mampu lagi merasakan apa-apa yang diberikan oleh bumi.
Hidup itu hanya sementara,
Setelahnya ada keabadian yang nyata"
Jadi..
di persimpangan ini,
aku telah mencapai titik untuk melepaskan semua perihal dunia,
tentang manusia-manusia yang hadir membawa luka,
tentang perdebatan yang menjadi sia-sia,
tentang maaf yang tidak pernah sampai di depan mata,
dan tentang kesalahan-kesalahan termasuk penyesalan hingga kegagalan yang kupikul lama sendirian,
aku melepaskan,
dan memaafkan,
memaafkan diri sendiri dan manusia lain yang pernah bermain peran dalam kehidupan.
Saatnya kembali menata dan berjalan,
dengan prespektif berbeda untuk menyusuri fase waktu manusia.
Aku hanya satu dari sekian milyar manusia,
tapi kehadiranku,
tidak akan menjadi sia sia.
Komentar
Posting Komentar