Postingan

Lautan

dan mereka lebih memilih menenggelamkan kepala di lautan kesibukan, merelakan sebuah sapaan, melupakan sebuah tatapan yang memiliki banyak kesamaan, mungkin nanti, jika memang jalannya, mungkin bertemu kembali, dan mereka melanjutkan mengarungi lautannya sendiri-sendiri,  merelakan yang sebenarnya selama ini dicari. 

Sempurna

kelap-kelip lampu, gedung-gedung tinggi, bunga warna-warni, bulan yang jauh, saturnus yang asal, lemon yang baru, dan piring mangkok yang tidak bisa dibawa pulang karena mereka akan tahu, sempurna, seluruhnya. ditambah gelak tawa yang tidak ada hentinya, meramaikan hiruk-pikuk kota yang tampak kecil dari tempat kita berada. sempurna, seluruhnya, bahagia. 

Berhenti Bersembunyi

Dan aku pernah bersembunyi, berhenti karena sangat takut dihakimi, berhenti karena takut untuk tidak disukai.  Hingga akhirnya, aku terperangkap dalam jebakan menjadi sempurna, untuk orang-orang yang tidak mengerti kata "menerima." Begitu gelap rasanya dunia, untuk menjauh dari apa yang seharusnya menjadi karunia. "Hidup ini adalah pilihan" kata beberapa pembijaksana, Sehingga, kali ini, aku memilih untuk berhenti bersembunyi, dan menjalani, kehidupan yang aku sukai. 

Kata Diriku

"Tulisanmu sangat berbeda dengan dirimu!" "Tulisanmu sok dewasa!" "Kau tau tulisanmu bisa diasumsikan orang lain tidak-tidak!" "Berhenti untuk terlalu bercerita, tidak semua orang harus tau apa yang kamu rasa!" "Kau sangat mudah dibaca" katanya.. dan kata mereka.. "Aku cinta menulis." "Dan aku akan tetap menulis." kataku.. dan kata diriku. 

Jam Dua Pagi

Jam dua pagi, dan kepalanya berisik sekali.. tidak ada yang bisa ia lakukan selain berdiam diri, menatap kosong jalanan dengan semua memori yang kembali. Jam dua pagi, adalah waktu yang tidak ia sukai, lelah ia mendengar seluruh tanya yang memburu diri, "Bawa aku lari!" bisiknya kepada matahari yang masih bersembunyi.  Jam dua pagi, dan ia berdamai lagi..

Terima dan Hadapi

dan aku mengerti, masih banyak dalam diri yang harus diperbaiki, berdamai dengan segala salah yang menyelimuti, dan mengumpulkan kata berani untuk "mari kita coba lagi" setiap hari, dan aku mengerti, betapa sulit untuk berhenti dari penghakiman diri yang tiada habis kita sumpahi, menyedihi keputusan yang sudah terjadi,  namun kembali juga bukan tempat yang ingin kita datangi.  dan kita tidak memiliki pilihan selain, terima dan hadapi..

"Aku Kembali"

dan ia kembali berteman dengan kekosongan, dimana ruang-ruang hampa dalam dadanya kembali menyapa, bersorak bergembira "Akhirnya kau pulang juga!" kata mereka. sudah dua tahun lebih ia tinggalkan ruang ini tak berpenghuni, dan rasanya masih sama sejak terakhir kali ia pergi.  gelap, dingin, dan terputus dengan ruang luar kehidupan dunia. "Aku kembali." katanya kepada mereka. .