Postingan

Selamat diwisuda

Hai,  ingat tidak beberapa tahun yang lalu  adalah moment dimana kita mengambil keputusan besar  dalam hidup kita, Berpamitan kepada orang tua, dan berpelukan untuk pergi meninggalkan kota. kita lakukan,  demi misi meraih cita yang kita dambakan. dan demi harapan besar yang ingin kita wujudkan. Dan disinilah kita bertemu, melebur dalam impian dan perjuangan, dari berbagai latar, kita berteman.  Namun sayangnya,  pada setengah perjalanan, kita dipisahkan oleh keadaan. dan diharuskan berjuang sendirian. Beradaptasi pada sesuatu yang belum pernah kita lalui, mencari cara menyesuaikan diri di tengah pandemi. Hari-hari seakan sulit untuk dilewati, dan ide entah kemana mereka pergi, hanya revisi, yang selalu datang menghampiri. Setiap malam,  kita berjalan dengan dipenuhi pertanyaan, "bisakah aku meraih cita yang kudambakan?" "bisakah aku mewujudkan harapan?" bukan  "bisakah aku menyelesaikan??" ------ Hai,  tidak disangka, beragam pertanyaan, akhi...

Dear Myself

Dear myself, Kamu lagi ngerasa hilang ya, khawatirmu sepertinya kembali lagi malam ini, rasanya dunia sekarang menjadi tempat yang salah untuk ditinggali. pun tidak ada kabar baik, hanya ada beragam masalah yang mengantri.   Kenyang dengan berbagai pertanyaan tentang langkah selanjutnya di kehidupan, Seakan berhenti dan bernafas sejenak bukanlah hal yang baik untuk dilakukan.   Hidup yang kamu rasakan juga jauh dari kata kebebasan yang kamu dambakan, Dan sayangnya waktu begitu cepat berlalu tanpa henti, hari demi hari terus bergulir tanpa ada sesuatu yang berarti.   Dear myself, Kamu lagi kebingungan ya, Aku tau kepalamu juga sudah lelah untuk terus bertanya, Hatimu juga sudah hampir lelah untuk terus percaya, Tentang segala yang ada di depan akan menghasilkan apa dan apa.   Dear myself, Mungkin yang kamu butuhkan sekarang adalah sedikit harapan, Agar kaki dapat terus kuat berjalan, Agar hati dapat terus bebal mempertaruhkan,...

Hanyut

dan Ia telah hanyut, dalam kesedihan dan warna-warna hitam, dalam deras ombak ketidak percayaan dan ketakutan, dan ia telah hanyut, dan ia telah hanyut, .. dan ia telah hanyut, .. dan.. ..ia memilih hanyut.

Tidak Baik Jika Terlalu Membenci

Tidak baik jika terlalu membenci, Tidak baik jika terlalu menghakimi, Perihal "menerima" tidaklah mudah untuk dilalui, namun, tetap besarkanlah kapasitas hati. sehingga keikhlasan akan tau kemana ia harus kembali, ke rumah sendiri, diri sendiri.  Sampaikan salam kepada pembalasan, mungkin dia tidak perlu lagi datang dan menghinggap dipikiran, Sampaikan salam kepada pemaafan, semoga hal baik yang kau dambakan akan datang. Tidak baik jika terlalu membenci, maafkan sekali lagi, termasuk diri sendiri.

Siapalah Kita?

Siapalah kita, yang ternyata tidak juga terlihat seperti siapa-sapa, begitu kecil,  dari atas sini, semua seperti satu buah titik lampu, yang setiap hari menyapu jalanan panjang di kota ini. Siapalah kita, yang terkadang begitu tenggelam, kepada rutinitas dan segala tuntutan, berpacu kepada kecepatan, dibawah sana, semua berlomba siapa yang tercepat mencapai tujuan. Mungkin, pada akhirnya kita hanyalah manusia biasa, yang tidak menjadi hebat terkadang juga tidak apa-apa. yang tidak perlu untuk terus berlari, karena apa yang memang untukmu, tidak akan terlewati.  Sudahkan kau pernah berhenti? hanya untuk sekedar menikmati apa yang sedang kau lalui? atau apakah kau terlalu terburu-buru? pada setiap petang, turun dari gedung yang sama, dan menyapu jalanan yang itu-itu saja? hingga kau tidak menyadari, langit mana yang menunggu untuk kau kagumi.  Jangan terlalu terpaku, kepada nyaring suara klakson, kabut dan asap yang menutupi indahnya langit hari ini. Berhenti, dari pacuan...

Hampa

Ruang itu begitu hampa, seakan semua hal baik telah hilang dari sana, bertaburan, berlarian, hingga kosong tidak ada lagi yang tersisa. Jalannya begitu pelan, namun nafasnya terpenggal-penggal, seakan ruang hampa itu begitu berat ia bawa. Tidak ada lagi yang tersisa. harapannya terbang meninggalkannya, dan ia hanya bisa berjalan, tertunduk perlahan-lahan menunggu kejatuhan. Kemana langit yang ia puja, ia tidak lagi mengenal siapa-siapa, tidak juga dirinya. Ruang itu begitu hampa, dan segalanya telah sirna, tidak bersisa.

Kenapa begitu susah hanya untuk merasa bahagia?

Sedih dan cemas seakan menariknya, menuju dasar dari rasa kehampaan di hatinya. "Kenapa begitu susah?" tanyanya, hanya untuk berada, merasa,  tentang segalanya dengan apa adanya. Ia begitu ingin merayakan, rasa bahagia dalam hatinya dengan sepenuhnya. Ia begitu ingin membebaskan, rasa sakit dalam hatinya dengan senyuman. "Kenapa begitu susah hanya untuk merasa bahagia?" tanyanya.