Postingan

:)

Kali ini aku hendak bercerita, tentang seseorang.. yang memiliki hati sekuat baja, hatinya sungguh luas bagaikan samudera, sabarnya seakan tidak terbatas bagaikan angkasa, dan cintanya seperti tidak pernah habis bagaikan air di laut sana. Kita manusia, tentu pernah mengalami.. tentang jatuh dan terpuruk, tentang luka dan kecewa, tentang derai air mata, dan tentang bertahan ketika harapan seakan menghilang. Pada saat itu, ada seseorang yang duduk bersamaku, menangis bersamaku, memeluk bahuku, dan menguatkan aku, dia berkata "tidak papa, yang kuat, kamu pasti bisa" kemudian dia tersenyum, dan mengajarkan aku tertawa ditengah luka, katanya biar tetap waras dan tidak gila. Dia memberikan aku contoh, bagaimana manusia harus bertahan disegala cobaan, dia tetap memberikan aku cinta, walau aku tahu bukan hanya aku saja yang terluka, namun dia juga, aku yang terkadang gagal membahagiakan, sedikit-banyak pasti pernah menggores hatinya, aku yang jarang m...

Pertarungan

Pernah tidak kamu menghadapi sebuah pertarungan? pertarungan yang sulit dimenangkan, tak jarang, kamu menganggapnya seperti.. pertarungan dirimu melawan dunia, dunia seperti benar-benar tidak memihakmu, bahkan memusuhimu, menikammu, dan hampir menghancurkanmu. Padahal kenyataanya.. peperangan itu.. hanyalah dirimu melawan dirimu sendiri. Hanyalah tentang rasa melawan logika, pemikiran melawan kenyataan, ekspektasi melawan realita, dan harapan melawan kemampuan, Tak jarang kamu dihadapi oleh situasi yang membingungkan, apalagi jika pertarungan itu berujung kepada.. pemilihan antara rasa dan logika Logika seperti menyuruhmu berkata "tidak" namun rasa tidak takut memberontak untuk berteriak "iya" dan kamu hanya bisa terdiam, ketika banyak suara di dalam kepala yang menikam. Kini kamu tahu, Pertarungan itu tidak bisa dimenangkan, maka.. Berdamailah, jangan sampai dirimu menjadi korban, atas apa saja...

1 Nama Manusia

Ada manusia yang mengajarkan aku untuk menjadi seorang manusia, membawaku melihat dunia dengan sudut pandang yang berbeda, ternyata dunia.. tidak selalu penuh dengan rasa sakit dan derita, ada ceria yang harus dijaga, dan ada harapan yang harus terlaksana, dan akupun teringat, setiap manusia memiliki bebannya juga, ada sedih yang ia pikul sendiri, ada tanggung jawab yang ia bawa kesana kemari, dan ada sepi yang ia ramaikan seorang diri, tapi, hebat. Manusia itu masih bersedia menjadi tempat berbagi luka, mendengarkan tanpa suara, memahami lara tanpa bertanya, dan entah kenapa, Manusia itu mampu mengajarkan aku menjadi manusia seutuhnya. Membaca tulisan ini, kemudian kalian akan teringat, kepada siapa diri kalian berhenti untuk beristirahat, telinga siapa yang selalu bersedia ketika kalian ingin bercerita, akan selalu ada 1 nama manusia disetiap manusia, entah itu nama ibu, bapak, kakak, adik atau 1 nama manusia lainnya yang kemudian kehadirannya, kalian...

Monster

Monster itu nyata, ia menjelma dalam tubuh manusia, yang bisa kau temui dimana saja. Mereka menyakitimu, menikammu tanpa menyentuhmu, beberapa membenturkan mu, kepada kenyataan bahwa mereka tidak pernah benar benar.. ..menyayangimu. Namun, kehidupan memaksamu untuk tetap hidup dengan tidak melawan, melainkan menerima. Menerima kenyataan bahwa hidup terkadang tidak baik-baik saja, tapi kamu, harus baik baik saja.

Terdiam

dan kamu mendapati dirimu terdiam, seorang diri, Perihal rasa sakit yang tidak tertahan, dan amarah yang susah payah kamu redam. Suaramu tidak pernah didengar, dan sikapmu yang selalu ditertawakan. dan lagi-lagi, Kamu mendapati dirimu terdiam, di depan cermin yang memantulkan diri, kamu  mulai bertanya, untuk apa kamu ada di bumi? seolah tak ada seorangpun yang mampu membuatmu berarti. dan kamu mendapati dirimu terdiam, kini.. di dalam sujud malam panjang, memohon pengampunan.

Bab Pertemuan

Aku tidak tahu tulisan ini tentang mensyukuri sebuah pertemuan, atau mengikhlaskan sebuah perpisahan Namun, jika berbicara tentang sebuah pertemuan, Entah membahagiakan atau menyakitkan, tidak perlu kita sesalkan. Cukup disimpan. Entah menjadi sebuah kenangan, yang kamu tata rapi dalam ingatan atau Menjadi sebuah memori, yang nantinya mampu kamu lupakan sendiri.

"Sampai Kapan?"

Ada satu pertanyaan, yang mungkin aku atau beberapa dari kalian, menjawabnya akan gelagapan. Pertanyaan itu.. tentang "Mau sampai kapan?" Mau sampai kapan menyimpan sendirian? Mau sampai kapan bertahan diam diam? Mau sampai kapan berpura-pura, tapi ditengah malam.. kamu hancur berantakan? Tentang "sampai kapan" kita tidak akan tahu, karena "harapan" saja terkadang rasanya begitu semu. Tapi jika ditanya tentang "Bertahan" "Belajar melupakan" "Menerima" "Mencoba mengikhlaskan" dan pelan-pelan "berjalan menyusun kehidupan" mungkin kita sudah handal memerankan. Kehidupan yang tidak tahu pendek atau panjang, buatlah suatu cerita yang bisa kamu simpan atau bagikan. Tidak melulu tentang seberapa kuat kamu berjuang, tidak melulu tentang luka yang susah payah kamu sembuhkan, atau tentang lama perjalanan yang sudah kamu habiskan, Tapi cukup suatu cerita, tentang bagaimana dirimu mencoba...